Jakarta (tutur.co.id)- Ada satu momen yang sering terjadi saat Ramadan. Anda berbuka dengan minuman sangat manis. Rasanya nikmat sekali. Tubuh seperti hidup kembali. Tapi tidak lama kemudian, kantuk datang. Kepala terasa berat. Tarawih jadi perjuangan. Dan malam terasa lebih cepat lelah.
Momen Itulah yang disebut lonjakan gula darah.
Setelah hampir seharian berpuasa, kadar gula darah berada di titik rendah. Sensitivitas insulin meningkat. Saat Anda langsung mengonsumsi gula tinggi—sirup, minuman kemasan, kental manis—gula darah melonjak cepat. Tubuh mengeluarkan insulin dalam jumlah besar untuk menurunkannya kembali. Akibatnya, terjadi penurunan drastis setelahnya.
Pola ini dikenal sebagai “glucose spike-crash”.
Penelitian dalam Diabetes Care menunjukkan bahwa fluktuasi gula darah yang tajam dapat meningkatkan stres oksidatif lebih tinggi dibandingkan kadar gula yang relatif stabil. Artinya, bukan hanya soal rasa mengantuk, tetapi juga tentang bagaimana tubuh Anda bekerja lebih keras dari yang seharusnya.
Selain itu, lonjakan gula yang berulang dapat membuat:
• Energi tidak stabil
• Cepat lapar kembali
• Nafsu makan berlebihan saat makan utama
• Risiko peningkatan berat badan
Padahal Ramadan mengajarkan keseimbangan.
Cara Membantu Tubuh Tetap Stabil Saat Berbuka
Anda bisa mencoba pola sederhana ini:
• Minum air putih terlebih dulu
• Konsumsi 1–3 kurma
• Beri jeda beberapa menit
• Lanjutkan dengan makanan atau minuman yang mengandung serat atau protein.
Serat memperlambat penyerapan gula. Protein membantu menjaga rasa kenyang lebih lama. Kombinasi ini membuat gula darah naik lebih terkontrol.
Tubuh Anda sebenarnya tidak butuh gula dalam jumlah besar. Ia hanya butuh diisi ulang dengan cara yang lebih bijak.
Ramadan bukan lomba siapa yang paling banyak menahan lapar, juga bukan ajang balas dendam saat magrib tiba. Menjaga agar gula darah tetap stabil adalah bagian dari menjaga amanah tubuh Anda. Supaya ibadah malam terasa lebih ringan. Supaya energi esok hari tidak terkuras hanya karena pilihan berbuka yang terburu-buru.
Menahan diri bukan hanya soal tidak makan dan minum. Tapi juga soal memilih dengan sadar ketika waktunya tiba. Dan Anda selalu punya pilihan untuk berbuka dengan cara yang lebih tenang.

