Jakarta (tutur.co.id) — Harga emas perhiasan pada Selasa pagi (24/2/2026) menunjukkan pergerakan yang tidak seragam di sejumlah gerai besar. Di saat sebagian pelaku usaha menurunkan harga mengikuti tekanan pasar, lainnya justru memilih menaikkan harga cukup agresif. Perbedaan arah ini mencerminkan respons yang beragam terhadap dinamika harga emas global dan nilai tukar rupiah.
Pergerakan harga emas perhiasan umumnya dipengaruhi oleh harga emas dunia, fluktuasi kurs dolar AS, serta strategi masing-masing perusahaan dalam mengelola stok dan margin. Selain itu, permintaan industri perhiasan global dan kebijakan bank sentral dalam menjaga cadangan emas turut membentuk sentimen pasar.
Raja Emas Turunkan Harga Hampir Seluruh Kadar
Raja Emas Indonesia memilih menyesuaikan harga ke bawah di hampir seluruh kadar karat. Harga emas perhiasan 24 karat tercatat Rp2.545.000 per gram atau turun Rp5.000 dibandingkan hari sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada 23 karat yang menjadi Rp2.270.000 (turun Rp6.000) dan 22 karat Rp2.171.000 (turun Rp5.000). Tren koreksi serupa terlihat hingga kadar 12 karat, dengan penurunan berkisar Rp3.000–Rp5.000 per gram.
Langkah ini mengindikasikan adanya penyesuaian mengikuti pergerakan harga emas acuan atau strategi untuk menjaga daya beli konsumen di tengah fluktuasi pasar.
Hartadinata Tahan Harga di Tengah Volatilitas
Berbeda dengan Raja Emas, Hartadinata Abadi mempertahankan harga di seluruh kadar. Emas perhiasan 22 karat dipatok Rp2.779.000 per gram dan 20 karat Rp2.725.000 per gram tanpa perubahan.
Sementara itu, kadar 17 karat dijual Rp2.429.000 dan 16 karat Rp2.294.000 per gram. Untuk kadar lebih rendah seperti 9 karat, 8 karat, hingga 6 karat juga tercatat stabil.
Sikap menahan harga ini bisa mencerminkan pendekatan konservatif, menunggu arah harga global lebih jelas sebelum melakukan penyesuaian.
Laku Emas Naikkan Harga Hingga Rp29.000
Sebaliknya, Laku Emas (CMK Group) justru menaikkan harga di seluruh kadar karat. Kenaikan paling tinggi terjadi pada 24 karat yang melonjak Rp29.000 menjadi Rp2.615.000 per gram.
Harga 23 karat naik Rp25.000 menjadi Rp2.272.000 dan 22 karat naik Rp25.000 menjadi Rp2.173.000. Kenaikan berlanjut hingga kadar 12 karat dengan tambahan Rp13.000–Rp24.000 per gram.
Lonjakan ini menunjukkan respons cepat terhadap potensi kenaikan harga emas global atau pelemahan kurs yang berdampak pada biaya pengadaan bahan baku.
Pembeli Perlu Lebih Selektif
Perbedaan harga antar gerai pada hari yang sama menegaskan bahwa pasar emas perhiasan ritel tidak sepenuhnya bergerak serempak. Faktor internal perusahaan, strategi persaingan, hingga ekspektasi harga ke depan turut memainkan peran.
Bagi calon pembeli, kondisi ini membuka peluang untuk membandingkan harga sebelum bertransaksi. Sementara bagi investor emas perhiasan, volatilitas jangka pendek bisa menjadi momentum akumulasi, dengan tetap memperhatikan tren harga emas dunia dan pergerakan rupiah.
Dalam situasi pasar yang dinamis, disiplin memantau harga menjadi kunci untuk mendapatkan nilai terbaik, baik saat membeli maupun menjual emas perhiasan.

