WASHINGTON (tutur.co.id) — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pasukan khusus AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya dalam sebuah operasi militer yang ia sebut sebagai “serangan besar-besaran” ke wilayah Venezuela. Pernyataan sepihak ini segera mengguncang diplomasi global dan memicu ketegangan terbuka di Amerika Latin.
Klaim tersebut disampaikan Trump melalui pernyataan resmi kepada CNN pada Sabtu, 3 Januari 2026. Ia menyebut operasi dilakukan bersama aparat penegak hukum Amerika Serikat dan berujung pada penangkapan Maduro, yang kemudian “diterbangkan keluar negeri.” Trump menjanjikan penjelasan lebih rinci dalam konferensi pers di Mar-a-Lago pada pukul 11.00 waktu setempat.
“Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolás Maduro, yang telah ditangkap bersama istrinya,” ujar Trump. Ia tidak menyebut lokasi penangkapan maupun dasar hukum internasional operasi tersebut.
Hingga laporan ini diturunkan, Gedung Putih belum merilis dokumen pendukung, perintah eksekutif, maupun konfirmasi resmi dari Departemen Pertahanan AS. Pemerintah Venezuela juga belum mengakui kebenaran klaim tersebut.
CBS News melaporkan, penangkapan Maduro dilakukan pada Sabtu pagi oleh personel Pasukan Delta—unit elit Angkatan Darat AS yang kerap ditugaskan dalam operasi misi khusus berisiko tinggi. Unit yang sama pernah terlibat dalam operasi militer tahun 2019 yang menewaskan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Namun laporan itu juga belum disertai bukti visual atau pernyataan dari Pentagon.
Maduro sendiri sejak 2020 telah didakwa di pengadilan Amerika Serikat atas tuduhan narco-terrorism dan keterlibatan dalam jaringan perdagangan narkoba internasional. Washington selama bertahun-tahun menyebutnya sebagai pemimpin rezim ilegal dan telah menjatuhkan sanksi ekonomi berat terhadap Caracas.
Di sisi lain, respons keras datang dari Venezuela. Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López mengumumkan pengerahan militer nasional melalui video yang diunggah di media sosial pada Sabtu pagi. Ia menyebut negaranya berada dalam kondisi siaga penuh menyusul “agresi militer asing” terhadap wilayah kedaulatan Venezuela.
Langkah Trump ini akan menandai eskalasi paling ekstrem hubungan AS–Venezuela dalam beberapa dekade terakhir. Operasi penangkapan kepala negara asing di wilayahnya sendiri berpotensi melanggar hukum internasional dan Piagam PBB, sekaligus membuka babak baru konflik geopolitik di kawasan Amerika Latin.
Kembali, dunia menahan nafas atas langkah agresif Presiden Donald Trump.

