Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (12/2/2026), setelah ditutup melonjak hampir 2% pada sesi sebelumnya. Sentimen teknikal yang membaik serta optimisme investor terhadap kinerja emiten menjadi katalis utama penguatan pasar saham domestik.
Pada penutupan perdagangan Rabu (11/2/2026), IHSG menguat 1,96% ke level 8.290,9. Sektor energi mencatatkan kenaikan terbesar, sementara sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang terkoreksi.
Phintraco Sekuritas menilai, penguatan IHSG didorong oleh meningkatnya optimisme investor terhadap prospek pasar modal Indonesia, rilis laporan kinerja keuangan emiten, serta dukungan faktor teknikal. Selain itu, nilai tukar rupiah yang kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut menjadi sentimen positif.
Secara Teknikal, IHSG Berpeluang Uji 8.350–8.400
Dari sisi teknikal, IHSG dinilai masih memiliki ruang penguatan. Indikator Stochastic RSI menunjukkan kenaikan, sementara histogram negatif Moving Average Convergence Divergence (MACD) semakin menyempit. Volume pembelian juga tercatat meningkat, mencerminkan minat beli yang solid di pasar.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dan menguji level 8.350–8.400 pada perdagangan Kamis (12/2/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Rabu (11/2/2026).
Level tersebut menjadi area resistance terdekat yang akan menjadi penentu arah pergerakan indeks selanjutnya. Jika mampu menembus 8.400, IHSG berpotensi melanjutkan tren bullish jangka pendek.
Bursa Asia Menguat, Inflasi China Melambat
Dari eksternal, mayoritas indeks saham di kawasan Asia ditutup menguat pada Rabu (11/2/2026). Pelaku pasar mencermati data inflasi China yang menunjukkan perlambatan.
Inflasi tahunan China tercatat sebesar 0,2% year-on-year (YoY) pada Januari 2026, turun dari 0,8% YoY pada Desember 2025. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Oktober dan lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,4% YoY.
Perlambatan inflasi ini dinilai mencerminkan masih lemahnya permintaan domestik di China, namun di sisi lain membuka ruang kebijakan stimulus lanjutan dari otoritas setempat yang berpotensi menopang sentimen pasar regional.
Pasar Global Tunggu Data Properti AS
Dari Amerika Serikat, pelaku pasar menantikan rilis data Existing Home Sales periode Januari 2026. Penjualan rumah bekas diperkirakan mengalami kontraksi 3,4% secara bulanan (month-on-month/MoM) menjadi 4,15 juta unit, setelah sebelumnya melonjak 5,1% MoM pada Desember.
Koreksi tersebut dinilai lebih mencerminkan normalisasi pasca lonjakan signifikan pada bulan sebelumnya. Selain itu, daya beli yang masih tertekan akibat tingginya harga rumah dan belum stabilnya aktivitas transaksi turut menjadi faktor pembatas.
Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk membaca kekuatan konsumsi dan kondisi sektor properti AS, yang pada akhirnya dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.
Rekomendasi Saham untuk Trading
Seiring proyeksi penguatan IHSG, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi trading jangka pendek pada Kamis (12/2/2026), yakni:
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB)
PT Harum Energy Tbk (HRUM)
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)
Pelaku pasar disarankan tetap mencermati dinamika global dan pergerakan nilai tukar rupiah, mengingat volatilitas eksternal masih berpotensi memengaruhi arah IHSG dalam jangka pendek.

