Jakarta (tutur.co.id) — Bank sentral China, People’s Bank of China (PBOC), kembali menambah cadangan emasnya dan memperpanjang tren pembelian selama 15 bulan berturut-turut. Langkah ini menegaskan kuatnya permintaan emas oleh otoritas moneter China di tengah fluktuasi tajam harga emas dunia yang sempat tertekan pada akhir Januari 2026.
Berdasarkan data resmi yang dirilis pada Sabtu (7/2/2026), cadangan emas PBOC bertambah 40.000 troy ons pada Januari 2026. Aksi borong emas ini merupakan kelanjutan dari strategi diversifikasi aset yang telah dimulai sejak November 2024, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Harga Emas Bergejolak, China Tetap Agresif
Pembelian emas oleh China terjadi saat pasar global berada dalam fase volatil. Sepanjang Januari 2026, lonjakan minat spekulatif sempat mendorong harga emas dan perak mencetak rekor tertinggi secara beruntun. Namun, reli tersebut berbalik arah setelah terjadi aksi jual tajam yang menekan harga emas secara signifikan di penghujung bulan.
Meski saat ini harga emas mulai menunjukkan pemulihan terbatas, pelaku pasar masih bersikap hati-hati. Investor global terpantau melakukan penyesuaian ulang portofolio menyusul guncangan pasar yang terjadi dalam waktu singkat tersebut.
Bank Sentral Jadi Penopang Pasar Emas
Di tengah ketidakpastian tersebut, pembelian oleh bank sentral tetap menjadi faktor penopang utama pasar emas. Data World Gold Council (WGC) menunjukkan, pembelian emas oleh bank sentral dunia meningkat pada kuartal IV-2025, dengan total akumulasi sepanjang 2025 mencapai lebih dari 860 ton.
Meski belum menyamai rekor tahunan sebelumnya yang menembus 1.000 ton, WGC memperkirakan permintaan emas oleh bank sentral akan tetap berada di level tinggi. Kondisi ini mencerminkan peran emas yang semakin strategis sebagai aset cadangan utama ketika risiko ekonomi global meningkat.
Dedolarisasi dan Strategi Jangka Panjang China
Tren akumulasi emas yang dilakukan China tidak berdiri sendiri. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi global bank sentral untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS atau dikenal sebagai dedolarisasi. Dengan meningkatkan porsi emas dalam cadangan devisa, negara dapat memperkuat ketahanan ekonomi serta memitigasi risiko inflasi global dan potensi sanksi keuangan.
Emas dipilih karena memiliki nilai intrinsik yang relatif stabil dan likuiditas tinggi di pasar internasional. Bagi China, pembelian emas selama 15 bulan berturut-turut ini bukan sekadar keputusan investasi jangka pendek, melainkan strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi yuan di kancah global sekaligus mengantisipasi ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi perekonomian dunia.

