Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak mendatar atau sideways pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, seiring tekanan sentimen global yang masih membayangi pergerakan pasar saham domestik.
Pada perdagangan Kamis (5/2/2026), IHSG ditutup melemah 0,53% ke level 8.103,8 setelah sempat bergerak di zona hijau. Pelemahan tersebut terjadi di tengah tekanan dari mayoritas bursa Asia serta koreksi harga emas dunia.
Phintraco Sekuritas menjelaskan, sentimen negatif dari kawasan Asia menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan IHSG. Indeks Kospi tercatat kembali memimpin pelemahan di bursa Asia, terutama dipicu koreksi saham-saham produsen chip.
Selain itu, tekanan juga datang dari pasar komoditas, khususnya emas. Harga emas global berbalik melemah ke bawah level US$ 5.000 per troy ons pada Kamis (5/2/2026), menyusul komentar Gubernur The Fed Lisa Cook yang menegaskan tidak mendukung penurunan suku bunga tambahan. Cook menilai risiko inflasi masih menjadi perhatian utama, meskipun terdapat indikasi perlambatan di data tenaga kerja.
Sentimen tersebut diperkuat dengan mencuatnya nama Kevin Warsh sebagai kandidat Chairman The Fed berikutnya. Kondisi ini membuat pelaku pasar memperkirakan laju penurunan suku bunga bank sentral AS berpotensi berjalan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas mencatat indikator Stochastic RSI masih mengindikasikan potensi reversal di area oversold, dengan histogram negatif MACD yang mulai menyempit.
“IHSG masih bergerak di atas MA200, namun ditutup di bawah MA5. Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan bergerak sideways di kisaran 8.000–8.200 pada perdagangan Jumat (6/2/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Kamis (5/2/2026).
Di tengah tekanan pasar, data makroekonomi domestik menunjukkan kinerja yang relatif solid. Ekonomi Indonesia tumbuh 0,86% secara kuartalan (QoQ) pada kuartal IV-2025, melampaui estimasi 0,68% QoQ, meski melambat dibandingkan pertumbuhan 1,42% QoQ pada kuartal III-2025. Perlambatan ini salah satunya dipengaruhi oleh dampak bencana alam di wilayah Sumatra.
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,39% year on year (YoY) pada kuartal IV-2025, meningkat dari 5,04% YoY pada kuartal sebelumnya dan lebih tinggi dari estimasi 5,01% YoY. Capaian ini menjadi pertumbuhan tahunan terkuat sejak kuartal III-2022, didorong oleh konsumsi sektor swasta dan peningkatan investasi.
Untuk sepanjang tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,11% YoY, sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,2% YoY, namun lebih baik dibandingkan realisasi tahun 2024 yang sebesar 5,03% YoY. Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4% pada 2026, sementara Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan berada di kisaran 4,9%–5,7%.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa Indonesia periode Januari 2026 serta indeks harga properti kuartal IV-2025 yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat (6/2/2026).
Untuk strategi perdagangan jangka pendek, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham CDIA, SCMA, ARTO, TPIA, dan ISAT untuk diperhatikan pada perdagangan Jumat.

