Jakarta (tutur.co.id) — Sebanyak 15 emiten tercatat tengah dan akan melakukan pembelian kembali (buyback) saham perseroan menyusul tekanan tajam di pasar saham domestik akibat isu investability yang diumumkan oleh MSCI. Total dana yang disiapkan untuk aksi korporasi tersebut mencapai Rp 15,1 triliun.
Berdasarkan kompilasi Stockbit Sekuritas dan perkembangan terbaru hingga Kamis (5/2/2026), emiten-emiten yang terlibat dalam aksi buyback ini mencakup saham-saham berkapitalisasi besar hingga menengah, antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), serta PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Selain itu, aksi serupa juga dilakukan oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK). Emiten lainnya adalah PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT RMK Energy Tbk (RMKE), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA), serta PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI).
Dari sisi nilai, BBCA menjadi emiten dengan alokasi buyback terbesar, yakni mencapai Rp 5 triliun dengan periode pelaksanaan selama 12 bulan setelah RUPST pada 12 Maret 2026. Selanjutnya, BREN dan TPIA masing-masing menyiapkan dana Rp 2 triliun dengan periode buyback pada 4 Februari hingga 3 Mei 2026.
BBNI mengalokasikan dana Rp 1,5 triliun dengan periode buyback yang relatif panjang, yakni dari 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027. Sementara itu, CDIA dan BRPT masing-masing menyiapkan Rp 1 triliun, disusul CUAN sebesar Rp 750 miliar, IMPC Rp 500 miliar, serta TOWR Rp 300 miliar.
Adapun emiten dengan nilai buyback di bawah Rp 300 miliar antara lain CBDK dan RAJA yang masing-masing menyiapkan Rp 250 miliar, RMKE dan HEAL Rp 200 miliar, PBSA Rp 100 miliar, serta BBHI sebesar Rp 60,7 miliar. Sebagian besar buyback tersebut direncanakan berlangsung hingga April atau Mei 2026.
Stockbit Sekuritas mencatat, beberapa aksi buyback tersebut tidak memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) seiring adanya kebijakan relaksasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam kondisi pasar bergejolak.
“Selain buyback dari emiten, sejumlah pengendali serta direksi dan komisaris juga tercatat melakukan pembelian saham, seperti Prajogo Pangestu di CUAN, Lianawati Suwono di BBCA, Aditya Sasmito di AMMN, dan Suhendra Prawirawidjaja di ULTJ,” tulis Stockbit Sekuritas dalam ulasannya.
Meski langkah buyback dan pembelian saham oleh pengendali berpotensi memberikan sentimen positif serta mencerminkan keyakinan terhadap fundamental perusahaan, Stockbit Sekuritas menilai faktor yang lebih krusial bagi pemulihan pasar adalah respons konkret regulator terhadap isu MSCI. Oleh karena itu, investor diminta tetap mencermati arah kebijakan dan langkah lanjutan dari otoritas pasar modal.

