Bank NTT dan Kerja Senyap Melki–Johni untuk Akselerasi Pembangunan
Oleh: Agustinus Tetiro*
Di tengah tantangan pembangunan yang masih membelit Nusa Tenggara Timur (NTT), keberadaan Bank NTT tidak lagi cukup dimaknai sebagai lembaga keuangan milik pemerintah daerah yang menghimpun dana masyarakat dan menyalurkan kredit. Sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank NTT memikul mandat yang jauh lebih besar, yakni menjadi lokomotif pembangunan ekonomi, memperkuat daya saing daerah, sekaligus menerjemahkan arah kebijakan pemerintah provinsi ke dalam kerja-kerja bisnis yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64 Bank NTT pada 17 Juli 2026 menjadi kesempatan penting untuk membaca kembali relasi strategis antara bank daerah dan pemerintahan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena serta Wakil Gubernur Johanis Asadoma. Pesan Gubernur Melki agar Bank NTT mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi, mitra strategis pemerintah daerah, bank kebanggaan masyarakat, serta institusi yang menjunjung tinggi prinsip good corporate governance (GCG), sesungguhnya bukan sekadar sambutan seremonial. Pesan itu merupakan arah pembangunan yang harus diterjemahkan menjadi strategi bisnis yang progresif, adaptif, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
Harapan tersebut berangkat dari kenyataan bahwa NTT masih menghadapi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat kemiskinan di provinsi ini masih berada di atas rata-rata nasional, sementara hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kementerian Kesehatan memperlihatkan prevalensi stunting memang terus menurun, tetapi masih termasuk yang tertinggi di Indonesia. Dua persoalan tersebut saling berkaitan. Kemiskinan menyebabkan rendahnya kualitas gizi, pendidikan, produktivitas, dan akses terhadap layanan keuangan. Sebaliknya, rendahnya produktivitas ekonomi rumah tangga membuat upaya keluar dari kemiskinan berjalan lambat.
Kesadaran atas persoalan struktural inilah yang tampaknya menjadi dasar berbagai kebijakan pemerintahan Melki–Johni. Fokus pembangunan tidak hanya diarahkan pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada penguatan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan desa, pengembangan UMKM, perluasan akses pembiayaan, hilirisasi komoditas unggulan, serta penguatan kualitas sumber daya manusia. Program One Village One Product (OVOP), pengembangan koperasi dan usaha mikro, serta berbagai skema pembiayaan produktif merupakan contoh bagaimana pemerintah berupaya membangun ekonomi dari lapisan paling bawah.
Strategi tersebut sejalan dengan berbagai rekomendasi Bank Dunia dan Asian Development Bank yang menekankan bahwa pembangunan daerah hanya akan berkelanjutan apabila ditopang oleh ekonomi lokal yang kuat, akses pembiayaan yang inklusif, dan peningkatan produktivitas usaha kecil. Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran pemerintah, melainkan juga oleh kemampuan lembaga-lembaga ekonomi daerah menjadi katalis pertumbuhan.
Di sinilah posisi Bank NTT menjadi sangat strategis. Bank ini tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan aset, laba, atau ekspansi kredit. Ukuran keberhasilannya harus diperluas, yakni sejauh mana aktivitas bisnisnya mampu mempercepat transformasi ekonomi masyarakat. Setiap kredit produktif yang disalurkan kepada petani, nelayan, peternak, pelaku UMKM, maupun industri kecil sesungguhnya bukan sekadar transaksi perbankan, tetapi investasi sosial yang dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan rumah tangga, dan mengurangi kemiskinan.
Keunggulan Bank NTT dibandingkan bank komersial lainnya terletak pada kedekatannya dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Kedekatan itu seharusnya menjadi modal untuk membangun ekosistem ekonomi yang terintegrasi. Bank NTT dapat menjadi penyedia pembiayaan, Jamkrida NTT memperkuat penjaminan kredit, PT Flobamor berfungsi sebagai offtaker dan agregator produk masyarakat, sedangkan PT Kawasan Industri Bolok menjadi simpul investasi serta hilirisasi komoditas daerah. Kolaborasi semacam itu akan menciptakan rantai nilai yang utuh, mulai dari pembiayaan, produksi, pemasaran, hingga investasi.
Tema HUT Bank NTT tahun ini, “Bersama Menuju Puncak”, karena itu layak dimaknai lebih luas daripada sekadar peningkatan kinerja keuangan. Puncak yang sesungguhnya adalah ketika Bank NTT mampu menjadi institusi yang dipercaya masyarakat sekaligus menjadi mesin penggerak pembangunan daerah. Laba yang berkelanjutan hanya akan lahir apabila ekonomi masyarakat juga bertumbuh secara sehat.
Direktur Utama Bank NTT Charlie Paulus tampaknya memahami tantangan tersebut. Sejak awal menjabat, ia menyampaikan keinginannya mengubah orientasi organisasi agar lebih berfokus pada bisnis. Gagasannya menempatkan sekitar 80 persen pegawai di lini bisnis dan pelayanan masyarakat merupakan langkah yang menarik. Filosofinya sederhana, tetapi relevan: bank pembangunan tidak boleh lebih banyak bekerja di balik meja daripada hadir di tengah masyarakat.
Pendekatan ini sejalan dengan praktik relationship banking yang kini menjadi tren industri perbankan. Petugas bank tidak lagi sekadar menunggu nasabah datang ke kantor cabang, tetapi aktif mendampingi pelaku usaha, memahami kebutuhan mereka, memberikan literasi keuangan, sekaligus menawarkan solusi pembiayaan yang tepat. Bagi daerah seperti NTT, yang perekonomiannya masih ditopang sektor pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan kecil, dan UMKM, pendekatan tersebut jauh lebih efektif dibandingkan model pelayanan konvensional.
Publik tentu berharap transformasi itu tidak berhenti pada tataran konsep. Perubahan harus terlihat dari meningkatnya kualitas pelayanan, percepatan proses kredit, bertambahnya pelaku UMKM yang memperoleh akses pembiayaan, hingga naiknya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Bank NTT. Demikian pula dengan penguatan divisi treasury yang menjadi perhatian manajemen baru. Dalam situasi pasar keuangan yang semakin dinamis, diversifikasi sumber pendapatan menjadi kebutuhan agar Bank NTT tidak hanya bertumpu pada bunga kredit, tetapi juga mampu mengoptimalkan pengelolaan likuiditas dan instrumen investasi secara profesional.
Namun, seluruh agenda transformasi itu hanya akan memberikan dampak maksimal apabila Bank NTT mampu membaca satu hal yang selama ini mungkin belum sepenuhnya dipahami, yakni kerja senyap pemerintahan Melki–Johni. Kerja senyap bukan berarti bekerja tanpa hasil atau tanpa publikasi. Yang dimaksud adalah kemampuan membangun jejaring, melakukan lobi, menarik investasi, membuka akses pendanaan, dan menghadirkan berbagai program kementerian, lembaga, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga mitra pembangunan ke NTT. Kerja seperti ini memang tidak selalu menjadi tajuk utama media, tetapi justru melahirkan peluang ekonomi yang sangat besar bagi daerah.
Bagi Bank NTT, kerja senyap tersebut semestinya tidak dipandang sebagai aktivitas pemerintah semata. Setiap nota kesepahaman yang ditandatangani, setiap investasi yang masuk, setiap program pemberdayaan yang dibawa kementerian, bahkan setiap kunjungan gubernur ke sentra produksi masyarakat sesungguhnya adalah sinyal ekonomi yang harus dibaca sebagai peluang pembiayaan baru. Di titik inilah fungsi Bank NTT sebagai bank pembangunan benar-benar diuji.
Kerja senyap itu sesungguhnya mulai memperlihatkan hasil. Dalam lebih dari satu tahun pertama pemerintahan Melki–Johni, sejumlah kementerian meningkatkan komitmennya terhadap NTT. Program pembangunan dan renovasi rumah rakyat diperluas, dukungan peningkatan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan terus diperkuat, sementara Kementerian Koperasi dan UKM membuka ruang yang lebih besar bagi pembiayaan dan pendampingan pelaku usaha kecil. Di saat yang sama, pemerintah provinsi aktif menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi, organisasi bisnis, lembaga filantropi, hingga investor swasta. Semua itu menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak lagi hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tetapi juga pada kemampuan membangun kolaborasi lintas sektor.
Dalam konteks itulah Bank NTT seharusnya bergerak lebih cepat daripada sekadar mengikuti ritme birokrasi. Setiap peluang investasi yang dibuka pemerintah semestinya segera diterjemahkan menjadi skema pembiayaan. Ketika pemerintah membangun kawasan produksi pertanian, Bank NTT dapat menyiapkan kredit bagi petani dan koperasi. Ketika sektor pariwisata berkembang, bank dapat menghadirkan pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif, homestay, restoran, hingga usaha transportasi lokal. Ketika hilirisasi komoditas mulai dijalankan, Bank NTT dapat menjadi penyedia modal kerja bagi industri pengolahan. Dengan cara itu, setiap keberhasilan diplomasi pembangunan yang dilakukan Melki–Johni akan menghasilkan efek berganda bagi perekonomian daerah.
Logika inilah yang membedakan bank pembangunan dari bank komersial biasa. Bank pembangunan tidak sekadar membaca laporan keuangan calon debitur, tetapi juga membaca arah pembangunan daerah. Ia mampu menangkap sinyal kebijakan pemerintah sebagai peluang bisnis sekaligus instrumen pemerataan kesejahteraan. Semakin baik kemampuan membaca arah kebijakan, semakin besar pula kontribusi bank terhadap pertumbuhan ekonomi.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa tingkat inklusi keuangan Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, tantangan di daerah kepulauan seperti NTT masih besar karena persoalannya bukan hanya akses terhadap layanan perbankan, melainkan juga literasi keuangan, kualitas usaha masyarakat, dan kemampuan memanfaatkan pembiayaan secara produktif. Karena itu, Bank NTT tidak cukup hanya memperluas jaringan kantor atau menambah jumlah rekening. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang erat dengan masyarakat melalui edukasi keuangan, pendampingan usaha, dan inovasi layanan digital.
Di sinilah rencana menghadirkan super-app Bank NTT menjadi langkah yang patut diapresiasi. Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk mempertahankan daya saing di tengah perubahan perilaku masyarakat. Generasi muda semakin terbiasa melakukan transaksi melalui telepon pintar, mulai dari pembayaran, investasi, hingga pengajuan pinjaman. Apabila Bank NTT mampu menghadirkan aplikasi yang aman, mudah digunakan, dan terintegrasi dengan berbagai layanan publik maupun ekosistem UMKM, bank ini tidak hanya mempertahankan nasabah lama, tetapi juga mampu menarik generasi baru sebagai pengguna layanan keuangan. Tentu saja, seluruh inovasi tersebut harus dibarengi dengan penguatan keamanan siber, perlindungan data pribadi, dan peningkatan kualitas pelayanan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
Di sisi lain, keberhasilan transformasi digital juga harus diiringi dengan penguatan budaya kerja. Teknologi secanggih apa pun tidak akan menghasilkan perubahan apabila sumber daya manusia tidak memiliki orientasi pelayanan, integritas, dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat. Karena itu, transformasi organisasi yang sedang dijalankan manajemen Bank NTT harus menyentuh perubahan pola pikir, bukan sekadar perubahan struktur.
Momentum HUT ke-64 Bank NTT seharusnya menjadi lebih dari sekadar perayaan usia. Ia adalah kesempatan untuk menegaskan kembali jati diri Bank NTT sebagai institusi pembangunan. Masyarakat tentu berharap pelayanan semakin cepat, potensi fraud semakin kecil, penyaluran kredit semakin berkualitas, laba perusahaan meningkat secara sehat, kesejahteraan pegawai terus membaik, dan kepercayaan publik semakin kuat. Namun, di atas semua itu, masyarakat NTT sesungguhnya menginginkan sesuatu yang lebih mendasar: Bank NTT benar-benar menjadi bank yang memahami denyut nadi daerahnya sendiri.
Keberhasilan Bank NTT kelak tidak hanya diukur dari besarnya aset atau laba bersih yang dicapai setiap tahun. Ukuran yang jauh lebih penting adalah seberapa besar kontribusinya terhadap lahirnya wirausaha baru, bertambahnya UMKM yang naik kelas, meningkatnya investasi daerah, berkurangnya kemiskinan, dan semakin kuatnya ekonomi masyarakat hingga ke desa-desa. Ketika indikator-indikator itu bergerak positif, Bank NTT bukan sekadar mencatat keberhasilan bisnis, tetapi juga menunaikan mandat konstitusionalnya sebagai bank pembangunan daerah
Ayo Bangun NTT!
*)Agustinus Tetiro, redaktur tutur.co.id. Administrator Grup Wartawan NTT Sedunia.

