Atlanta (Tutur.co.id) – Semifinal Piala Dunia 2026 akan menyajikan duel klasik antara Argentina vs Inggris, Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 WIB. Pertandingan ini dipastikan menjadi salah satu laga paling dinanti karena mempertemukan dua raksasa sepak bola dunia dengan sejarah panjang rivalitas di panggung internasional.
Namun, sorotan utama kali ini tertuju kepada Lionel Messi. Menariknya, meski telah mencatat lebih dari 200 penampilan bersama Argentina dan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Albiceleste dengan 125 gol, Messi belum pernah sekalipun menghadapi Inggris di level senior.
Catatan tersebut akhirnya akan berakhir di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, ketika pasukan Thomas Tuchel berusaha menghentikan langkah sang juara bertahan menuju final Piala Dunia 2026.
Baik Inggris maupun Argentina datang ke semifinal setelah melewati laga yang sangat melelahkan. Inggris mengalahkan Norwegia 2-1 lewat babak perpanjangan waktu, sementara Argentina membutuhkan 120 menit untuk menyingkirkan Swiss dengan skor 3-1.
Kini, pertanyaan besarnya adalah: bagaimana cara Inggris menghentikan Lionel Messi?
Sejumlah Pemain Inggris Sudah Pernah Menghadapi Messi
Meski sebagian besar skuad Inggris belum pernah berhadapan langsung dengan Messi, beberapa pemain senior memiliki pengalaman menghadapi megabintang Argentina tersebut di level klub.
Harry Kane Pernah Bertarung Melawan Messi di Liga Champions
Kapten Inggris, Harry Kane, pernah menghadapi Messi saat masih memperkuat Tottenham Hotspur pada fase grup Liga Champions musim 2018/2019.
Pada pertemuan pertama di Wembley, Messi tampil luar biasa dengan mencetak dua gol dalam kemenangan Barcelona 4-2. Kane juga mencatatkan namanya di papan skor, tetapi gagal menghindarkan Tottenham dari kekalahan.
Pada laga kedua di Camp Nou, Tottenham berhasil menahan Barcelona 1-1 berkat gol Lucas Moura. Hasil itu memastikan Spurs lolos ke babak gugur hingga akhirnya melaju ke final Liga Champions.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi Kane menjelang duel melawan Messi di semifinal nanti.
John Stones Pernah Jadi Korban Hat-trick Messi
Bek tengah Inggris, John Stones, juga memiliki pengalaman pahit saat menghadapi Messi bersama Manchester City. Pada Liga Champions musim 2016/2017, City dibantai Barcelona 4-0 di Camp Nou dengan Messi mencetak hat-trick.
Meski demikian, City mampu membalas pada pertemuan kedua dengan kemenangan 3-1 di Etihad Stadium. Stones bahkan pernah mengakui bahwa Messi merupakan lawan tersulit yang pernah dihadapinya sepanjang karier profesional.
Jordan Henderson Punya Kenangan Manis
Di antara pemain Inggris lainnya, Jordan Henderson memiliki pengalaman paling menyenangkan ketika menghadapi Messi. Sebagai kapten Liverpool, Henderson menjadi bagian dari comeback legendaris saat membalikkan keadaan dari kekalahan 0-3 menjadi kemenangan 4-0 atas Barcelona pada semifinal Liga Champions 2019.
Messi memang tampil gemilang pada leg pertama, tetapi Liverpool berhasil mematikan pengaruhnya di Anfield sebelum akhirnya menjuarai Liga Champions musim tersebut.
Swiss Memberikan “Cetak Biru” Cara Menghentikan Messi
Sepanjang Piala Dunia 2026, hampir tidak ada tim yang mampu membatasi pengaruh Lionel Messi. Kapten Argentina itu telah mengoleksi delapan gol dalam enam pertandingan, sejajar dengan Kylian Mbappe di puncak daftar top skor turnamen.
Namun, Swiss berhasil menunjukkan bahwa Messi tetap bisa dibatasi. Pada laga perempat final, Swiss menjadi tim pertama yang mampu membuat Messi gagal mencetak gol sepanjang turnamen.
Meski sempat memberikan assist untuk gol Alexis Mac Allister pada awal pertandingan, Messi kemudian kesulitan menemukan ruang. Ia hanya mampu mencatatkan satu tembakan tepat sasaran sepanjang 120 menit.
Kiper Swiss, Gregor Kobel, bahkan menjadi penjaga gawang pertama di Piala Dunia 2026 yang sukses menggagalkan Messi mencetak gol.
Keberhasilan Swiss bukan karena mematikan Messi secara individu, melainkan melalui organisasi permainan yang sangat disiplin. Tim asuhan Murat Yakin menjaga jarak antarlini tetap rapat sehingga Messi kesulitan menerima bola di area berbahaya.
Pendekatan tersebut membuat Argentina kehilangan ritme permainan untuk waktu yang cukup lama.
Thomas Tuchel Bisa Meniru Strategi Swiss
Penampilan Swiss memberikan referensi berharga bagi Thomas Tuchel. Selain berhasil membatasi ruang gerak Messi, Swiss juga memaksa Argentina memainkan sepak bola yang tidak nyaman bagi mereka.
Ada faktor lain yang bisa dimanfaatkan Inggris, yakni kondisi fisik Messi. Pemain berusia 39 tahun itu baru saja menjalani tiga pertandingan fase gugur dengan intensitas tinggi, termasuk dua laga yang harus berlangsung hingga 120 menit.
Meski pengalaman dan kualitasnya tidak perlu diragukan, akumulasi kelelahan tentu bisa mempengaruhi performanya di semifinal.
Selain itu, Messi dikenal tidak terlalu aktif membantu pertahanan ketika Argentina kehilangan bola. Celah tersebut bisa dimanfaatkan Inggris melalui transisi cepat, terutama lewat kecepatan pemain-pemain sayap mereka.
Kunci Inggris Bukan Hanya Menghentikan Messi
Meski fokus utama akan tertuju kepada Lionel Messi, Inggris tidak boleh terjebak hanya memikirkan satu pemain. Argentina masih memiliki banyak ancaman lain seperti Julian Alvarez, Lautaro Martinez, Alexis Mac Allister, Enzo Fernandez, hingga Rodrigo De Paul yang mampu menentukan jalannya pertandingan.
Karena itu, Thomas Tuchel harus menemukan keseimbangan antara meredam Messi dan tetap menjaga organisasi permainan tim secara keseluruhan.
Pendekatan Swiss menunjukkan bahwa membatasi ruang gerak Messi jauh lebih efektif dibandingkan melakukan penjagaan individu secara ketat.
Kemungkinan besar Tuchel akan mengandalkan Declan Rice sebagai jangkar lini tengah untuk mempersempit ruang di depan pertahanan, sementara rekan-rekannya bertugas menutup jalur umpan menuju Messi.
Namun, Inggris juga tidak boleh bermain terlalu pasif. Jika terus bertahan di area sendiri, Argentina akan semakin leluasa mengendalikan permainan melalui penguasaan bola.
Sebaliknya, Inggris perlu memanfaatkan setiap transisi cepat untuk menyerang ruang yang ditinggalkan Messi ketika Argentina kehilangan bola.
Pertandingan ini diperkirakan ditentukan oleh detail-detail kecil. Apabila Inggris mampu membatasi pengaruh Lionel Messi tanpa kehilangan identitas permainan mereka sendiri, peluang untuk mencapai final Piala Dunia pertama sejak 1966 akan terbuka lebar.
Sebaliknya, jika Messi diberi sedikit saja ruang untuk mengendalikan tempo permainan, sang kapten Argentina berpotensi kembali menjadi pembeda dan membawa Albiceleste selangkah lebih dekat menuju upaya mempertahankan gelar juara dunia.

