Jakarta (tutur.co.id) – Kontroversi besar menyelimuti persiapan FIFA World Cup 2026. Badan sepak bola dunia, FIFA, resmi digugat oleh kelompok suporter Eropa terkait lonjakan harga tiket yang dinilai tidak wajar.
Gugatan tersebut diajukan oleh Football Supporters Europe bersama Euroconsumers ke Komisi Eropa. Mereka menuding FIFA menyalahgunakan posisi dominan dalam penjualan tiket turnamen.
Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memang mendapat antusiasme tinggi dari publik global.
Namun, di tengah euforia tersebut, harga tiket justru menjadi sorotan utama. Tiket final yang akan digelar pada 19 Juli 2026 dilaporkan dibanderol mulai sekitar Rp68 juta melonjak tajam dibanding edisi sebelumnya.
Sebagai perbandingan, tiket termurah final Piala Dunia 2022 di Qatar jauh lebih rendah, bahkan tiket final UEFA Euro 2024 hanya sekitar Rp1,6 juta.
Dalam pernyataannya, FSE menilai FIFA telah menetapkan harga berlebihan dan menerapkan sistem distribusi tiket yang tidak transparan.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya mempromosikan turnamen ini sebagai ajang global yang inklusif. Namun kenyataannya, banyak penggemar merasa semakin sulit mengakses pertandingan secara langsung di stadion.
Kelompok suporter menilai FIFA memanfaatkan kontrol penuh atas penjualan tiket untuk menetapkan kebijakan yang tidak kompetitif.
Kontroversi semakin memanas setelah harga tiket di pasar penjualan ulang resmi melonjak drastis.
Untuk laga final di MetLife Stadium, harga tiket kategori tertentu dilaporkan mencapai Rp2,3 miliar. Angka ini jauh melampaui harga awal yang sudah tergolong tinggi.
Lonjakan tersebut memperkuat kritik bahwa sistem distribusi tiket tidak berjalan adil bagi penggemar.
Dalam proposal awal tuan rumah, FIFA sempat menyebut tiket akan tersedia mulai sekitar Rp340 ribu. Namun dalam praktiknya, harga termurah kini berada di kisaran Rp970 ribu untuk laga fase grup.
Untuk pertandingan tim besar, harga tiket bahkan umumnya melampaui Rp3 juta.
Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi pertama dengan format 48 tim dan total 104 pertandingan. FIFA juga menyiapkan sekitar tujuh juta tiket untuk seluruh laga.
Namun dengan harga yang terus meningkat, muncul kekhawatiran bahwa turnamen ini akan kehilangan esensi sebagai pesta sepak bola yang ramah bagi semua kalangan.
Gugatan yang diajukan ke Komisi Eropa menjadi babak baru dalam polemik ini. Jika terbukti melanggar aturan persaingan, FIFA berpotensi dipaksa melakukan penyesuaian harga maupun sistem distribusi tiket.
Keputusan ini nantinya akan sangat menentukan apakah Piala Dunia 2026 tetap bisa dinikmati oleh para penggemar secara luas, atau justru menjadi ajang yang semakin eksklusif. (sas)

