Miami (Tutur.co.id) – Timnas Inggris memang berhasil memastikan tiket ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Norwegia dengan skor 2-1 melalui babak perpanjangan waktu. Namun, di balik hasil positif tersebut, performa The Three Lions masih menyisakan banyak tanda tanya.
Kemenangan dramatis atas Norwegia kembali memperlihatkan ketergantungan Inggris kepada Jude Bellingham dan Harry Kane. Tim asuhan Thomas Tuchel memang berhasil lolos ke empat besar, tetapi penampilan mereka dinilai belum cukup meyakinkan untuk menghadapi lawan-lawan kelas dunia seperti Argentina, Prancis, atau Spanyol.
Inggris Lolos Berkat Bellingham, Bukan Permainan yang Dominan
Laga perempat final berlangsung sengit sejak menit awal. Norwegia lebih dulu unggul melalui gol unik Andreas Schjelderup yang bermula dari umpan silang yang berubah arah dan mengecoh Jordan Pickford. Inggris baru mampu menyamakan kedudukan pada masa injury time babak pertama lewat aksi individu Jude Bellingham.
Di babak kedua, Norwegia sebenarnya sempat kembali mencetak gol melalui Torbjorn Heggem. Namun, VAR menganulir gol tersebut karena Erling Haaland dinilai melakukan pelanggaran terhadap Elliot Anderson sebelum sepak pojok dieksekusi.
Memasuki babak tambahan waktu, petaka menghampiri Norwegia ketika Haaland harus meninggalkan lapangan akibat cedera. Tak lama berselang, kesalahan kiper Orjan Nyland dalam mengantisipasi tembakan jarak jauh dimanfaatkan Bellingham untuk mencetak gol kemenangan Inggris. Meski berhasil melaju ke semifinal, permainan Inggris kembali jauh dari kata dominan.
Keberuntungan Memihak Inggris
Skor akhir 2-1 sebenarnya tidak sepenuhnya mencerminkan jalannya pertandingan. Inggris justru beberapa kali berada di ambang kekalahan. Setelah gol pembuka Schjelderup, Norwegia memperoleh peluang emas melalui Alexander Sorloth dalam situasi dua lawan satu.
Sayangnya, penyerang Atletico Madrid itu gagal melepaskan tembakan maupun mengirim umpan kepada Haaland yang berdiri bebas di depan gawang.
Andaikan peluang tersebut berbuah gol, Inggris kemungkinan besar akan dipaksa bermain lebih terbuka dan memberi ruang luas bagi Martin Odegaard serta lini serang Norwegia untuk melancarkan serangan balik.
Keberuntungan Inggris juga terlihat saat gol Torbjorn Heggem dianulir VAR. Awalnya wasit Clement Turpin mengesahkan gol tersebut, tetapi setelah mendapat rekomendasi dari VAR, sepak pojok harus diulang karena adanya pelanggaran Haaland terhadap Anderson.
Selepas pertandingan, Thomas Tuchel bahkan tidak menutupi rasa kecewanya. Pelatih asal Jerman itu secara terbuka mengkritik banyaknya kesalahan teknis yang dilakukan para pemainnya meski mereka baru saja memastikan tempat di semifinal.
Sikap Tuchel menunjukkan bahwa ia sadar timnya belum tampil sesuai harapan dan harus segera berbenah sebelum menghadapi lawan yang jauh lebih kuat.
Jalan Inggris ke Semifinal Terbilang Ringan
Jika melihat perjalanan sepanjang turnamen, Inggris sebenarnya belum menghadapi salah satu tim elite dunia. Penampilan terbaik mereka hadir saat mengalahkan Kroasia 4-2 pada laga pembuka fase grup. Meski demikian, pertandingan tersebut juga memperlihatkan kelemahan lini pertahanan.
Setelah itu, Inggris kesulitan menembus pertahanan Ghana. Mereka bahkan nyaris kalah apabila Jordan Pickford mendapat kartu merah atau Ezri Konsa dihukum penalti.
Di babak 32 besar, Inggris juga nyaris tersingkir saat menghadapi RD Kongo. The Three Lions tertinggal hampir sepanjang pertandingan sebelum Harry Kane mencetak dua gol penentu kemenangan 2-1.
Situasi serupa terjadi saat menghadapi tuan rumah Meksiko di babak 16 besar. Inggris hanya mampu menang tipis 3-2 berkat dua gol cepat Jude Bellingham dan satu gol penalti Harry Kane.
Norwegia memang menjadi lawan terberat yang dihadapi Inggris sejauh ini. Namun, jika dibandingkan dengan Argentina, Prancis, atau Spanyol, kualitas tim Skandinavia tersebut masih berada di bawah. Karena itu, banyak pihak menilai Inggris akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat pada semifinal.
Terlalu Bergantung kepada Jude Bellingham dan Harry Kane
Hal lain yang menjadi perhatian adalah besarnya ketergantungan Inggris terhadap Jude Bellingham dan Harry Kane. Dari seluruh gol Inggris di Piala Dunia 2026, hanya satu yang tidak dicetak oleh kedua pemain tersebut, yakni gol Marcus Rashford saat menghadapi Kroasia.
Bellingham tampil luar biasa sepanjang fase gugur. Ia hampir sendirian membawa Inggris melewati Meksiko lewat dua golnya, kemudian kembali mencetak dua gol saat menghadapi Norwegia.
Sementara itu, Harry Kane menjadi penyelamat ketika Inggris mengalahkan RD Kongo melalui dua gol penting yang menghindarkan timnya dari eliminasi.
Namun, performa Kane saat melawan Norwegia justru mengecewakan. Sang kapten nyaris tak memberikan kontribusi berarti selain kehilangan bola yang berujung pada gol pembuka Norwegia.
Kane juga memiliki catatan kurang baik dalam sejumlah laga besar. Salah satu yang paling diingat adalah kegagalannya mengeksekusi penalti saat Inggris disingkirkan Prancis pada perempat final Piala Dunia 2022. Di turnamen kali ini, ia juga sempat membuang peluang emas saat menghadapi Ghana dan gagal mengeksekusi penalti pada percobaan pertama ketika melawan Kroasia.
Semifinal Akan Menjadi Ujian Sesungguhnya
Keberhasilan Inggris melangkah ke semifinal memang patut diapresiasi. Namun, performa yang belum stabil membuat optimisme publik belum sepenuhnya muncul.
Jude Bellingham terus menjadi pembeda bagi The Three Lions, tetapi pertanyaan besarnya adalah apakah gelandang Real Madrid itu mampu terus mempertahankan performa luar biasanya setelah menguras banyak energi dalam dua pertandingan terakhir.
Jika Inggris ingin mengakhiri penantian panjang sejak menjadi juara dunia pada 1966, mereka membutuhkan lebih dari sekadar aksi heroik Bellingham dan Kane. Menghadapi tim sekelas Argentina, Prancis, atau Spanyol, performa kolektif yang solid akan menjadi syarat mutlak apabila ingin melangkah ke final Piala Dunia 2026.

