Jakarta (tutur.co.id)- Tahun ajaran baru menjadi momen yang dinanti anak-anak, tetapi juga identik dengan meningkatnya pengeluaran keluarga. Mulai dari seragam, sepatu, tas, alat tulis, hingga biaya daftar ulang di beberapa sekolah. Karena itu, orang tua perlu menyusun anggaran agar kebutuhan sekolah tetap terpenuhi tanpa membebani keuangan keluarga.
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Penunjang Pendidikan 2024 mencatat rumah tangga di Indonesia masih mengalokasikan sebagian pengeluarannya untuk pendidikan. Pada kelompok rumah tangga berpengeluaran rendah, porsi pengeluaran untuk pendidikan mencapai sekitar 4 persen dari total pengeluaran tahunan. Angka ini menunjukkan pentingnya perencanaan anggaran, terutama menjelang tahun ajaran baru.
1. Buat daftar kebutuhan prioritas
Pisahkan kebutuhan yang wajib dibeli, seperti seragam, buku, dan sepatu, dengan barang yang hanya bersifat pelengkap. Cara ini membantu menghindari belanja berlebihan.
2. Cek perlengkapan yang masih layak pakai
Sebelum berbelanja, periksa kembali tas, tempat pensil, botol minum, atau alat gambar. Jika kondisinya masih baik, tidak perlu membeli yang baru.
3. Tentukan batas anggaran
Tetapkan nominal maksimal yang akan dikeluarkan sebelum mulai berbelanja. Dengan begitu, Anda lebih mudah mengontrol pengeluaran dan tidak tergoda membeli barang di luar kebutuhan.
4. Manfaatkan promo secara bijak
Diskon memang menguntungkan, tetapi hanya jika barang tersebut memang sudah masuk dalam daftar belanja. Hindari membeli hanya karena harganya sedang murah.
5. Belanja secara bertahap
Jika anggaran terbatas, tidak semua perlengkapan harus dibeli sekaligus. Dahulukan kebutuhan yang akan digunakan pada hari pertama sekolah.
6. Libatkan anak saat memilih perlengkapan
Ajarkan anak memahami bahwa barang yang berkualitas tidak selalu yang paling mahal. Kebiasaan ini sekaligus menjadi edukasi sederhana tentang pengelolaan keuangan.
7. Siapkan dana cadangan
Selain kebutuhan awal sekolah, sisihkan dana untuk keperluan tak terduga, seperti buku tambahan, kegiatan sekolah, atau perlengkapan yang perlu diganti.
Dengan perencanaan yang matang, persiapan sekolah tidak harus menjadi beban keuangan keluarga. Yang terpenting bukan banyaknya barang baru yang dibeli, melainkan memastikan anak dapat memulai tahun ajaran baru dengan nyaman dan semangat.
