Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli penguatannya dengan melesat 134,58 poin atau 2,34% ke level 5.881,23 pada perdagangan sesi I, Rabu (10/6/2026). Kinerja tersebut menjadi sorotan karena terjadi di tengah pelemahan mayoritas bursa saham Asia, sekaligus memperkuat optimisme bahwa pasar modal Indonesia mulai kembali menarik minat investor.
Sepanjang sesi I, IHSG bergerak cukup volatil dalam rentang 5.677 hingga 5.939. Meski sempat mengalami tekanan pada awal perdagangan, indeks berhasil berbalik menguat dan bertahan di zona hijau dengan dukungan mayoritas saham yang ditransaksikan.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan sebanyak 31,68 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp19,94 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,04 juta kali. Sebanyak 543 saham menguat, 151 saham melemah, dan 118 saham bergerak stagnan.
Reli IHSG kali ini juga ditopang penguatan merata di seluruh sektor. Saham sektor teknologi memimpin kenaikan dengan lonjakan 4,29%, disusul sektor keuangan 3,24%, transportasi 3,11%, barang baku 2,53%, dan energi 2,52%.
Kinerja saham-saham unggulan juga menunjukkan penguatan signifikan. Indeks LQ45 tercatat naik 2,46%, mengindikasikan minat beli investor tidak hanya terjadi pada saham lapis dua dan tiga, tetapi juga pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Menariknya, penguatan pasar domestik terjadi ketika sejumlah indeks utama Asia justru berada di zona merah. Indeks Straits Times Singapura turun 1,18%, Nikkei Jepang melemah 2,36%, Shanghai Composite terkoreksi 0,92%, dan Hang Seng Hong Kong turun 1,22%.
Analis pasar modal sekaligus Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, menilai penguatan IHSG masih didorong kombinasi sejumlah sentimen positif, mulai dari pengumuman pembagian dividen emiten hingga penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menurutnya, pelaku pasar juga memanfaatkan momentum untuk melakukan akumulasi pada sejumlah saham yang dinilai masih berada di level menarik meskipun telah mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.
“Penguatan IHSG masih berlanjut karena pelaku pasar memanfaatkan harga sejumlah saham yang dinilai masih relatif rendah meskipun sudah mengalami kenaikan. Selain itu, sentimen positif dari pengumuman dividen emiten dan penguatan rupiah turut mendukung pergerakan pasar,” ujar Reza.
Ia menambahkan, kombinasi faktor tersebut mampu menjaga optimisme investor di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung. Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati potensi aksi ambil untung setelah reli tajam yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Reza, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada konsistensi aliran dana masuk ke pasar domestik, stabilitas nilai tukar rupiah, serta sentimen positif yang berasal dari kinerja fundamental dan aksi korporasi emiten.
Di tengah reli pasar, sejumlah saham mencuri perhatian setelah melesat hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) dan masuk jajaran top gainers. Saham PT Multitrend Indo Tbk (BABY) melonjak 35% menjadi Rp189, PT First Media Tbk (KBLV) melejit 34,85% menjadi Rp89, dan PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) melesat 24,8% ke level Rp3.070.
Selain itu, PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) naik 24,7% menjadi Rp1.565, PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) menguat 24,55% menjadi Rp1.040, sementara PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) terbang 20% menjadi Rp18.000.
Di sisi lain, tidak semua saham menikmati sentimen positif. PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA) justru menjadi saham dengan kinerja terburuk pada sesi I setelah anjlok hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). Harga saham GRIA ambles 14,69% ke level Rp122 dan memimpin daftar top losers.
Penguatan IHSG yang terjadi di tengah pelemahan mayoritas bursa regional menunjukkan adanya optimisme domestik yang mulai tumbuh kembali. Namun, pasar masih menunggu apakah reli ini mampu bertahan hingga penutupan perdagangan dan berlanjut dalam beberapa hari ke depan, atau justru memicu aksi profit taking setelah lonjakan tajam yang telah terjadi.

