Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak
  • Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya
  • Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?
  • Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Makro»Rhenald Kasali: Bisnis 2026 Digerakkan AI, Emosi Publik, dan Generasi yang Menolak Kantor

Rhenald Kasali: Bisnis 2026 Digerakkan AI, Emosi Publik, dan Generasi yang Menolak Kantor

Makro Adi P17 Januari 2026 / 11:55 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Guru Besar Ilmu Manajeman UI dan Pendiri Rumah Perubahan Rhenald Kasali dalam Breakfast Talk, Sabtu 17 Januari 2026. (Foto: Tutur/Adi P)
Guru Besar Ilmu Manajeman UI dan Pendiri Rumah Perubahan Rhenald Kasali dalam Breakfast Talk, Sabtu 17 Januari 2026. (Foto: Tutur/Adi P)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) — Dunia bisnis Indonesia tengah memasuki fase perubahan paling radikal dalam beberapa dekade terakhir. Bukan semata karena teknologi, melainkan pergeseran cara publik memaknai kebenaran, bekerja, dan mengambil keputusan ekonomi—sebuah kombinasi yang membuat politik, media, dan bisnis kian saling bertaut.

Gambaran itu disampaikan Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, dalam Breakfast Talk bertajuk Business Outlook 2026 di Andaliman Resto & Cafe, Rumah Perubahan, Jakarta Escape, Sabtu, 17 Januari 2026.

Menurut Rhenald, pengambilan keputusan bisnis ke depan akan sangat ditentukan oleh big data yang diolah dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi bukan hanya mempercepat proses, tetapi juga membentuk persepsi publik yang kian emosional.

“Bagi Gen Z, apa yang ada di internet itu adalah kebenaran, nyata. Sementara bagi orang tua, yang real adalah apa yang mereka alami langsung. Bagi generasi tua, media sosial, kebenarannya mungkin hanya 20 persen,” kata Rhenald.

Jurang persepsi antar-generasi itu, kata dia, menciptakan ruang abu-abu yang rawan dimanfaatkan. Media sosial tak lagi sekadar medium komunikasi, melainkan medan baru kejahatan ekonomi dan mungkin saja politik—mulai dari hoaks, disinformasi, hingga penipuan berbasis phishing yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan.

“Dulu, AI bisa ditipu manusia. Tapi sekarang, AI-lah yang menipu manusia,” ujar Rhenald.

Ia menilai, tantangan bisnis 2026 bukan hanya soal daya beli dan pertumbuhan, melainkan krisis kepercayaan di ruang digital. Polarisasi antara media arus utama dan media sosial makin tajam. Media konvensional bergantung pada iklan dan regulasi, sementara media sosial bergerak liar, cepat, dan emosional—sering kali tanpa verifikasi.

Dalam konteks ketenagakerjaan, Rhenald menyoroti perubahan sikap Generasi Z yang semakin enggan bekerja kantoran dan menolak struktur kerja formal. Fenomena ini dikenal sebagai “conscious unbossing”—keengganan generasi muda untuk menjadi manajer atau berada dalam hierarki kerja konvensional.

Baca Juga  Video: Wajahnya Muncul di Iklan Kue Berbasis AI, Megawati: Saya Ketawa Betul

Rhenald merujuk sejumlah studi global yang menunjukkan kecenderungan tersebut bukan sekadar tren sesaat. Lembaga riset Robert Walters, misalnya, mencatat 52 persen Gen Z tidak memiliki keinginan untuk memegang posisi manajemen menengah, sementara 69 persen menilai peran middle management terlalu stres dengan imbalan yang tidak sepadan. Bahkan, 72 persen Gen Z lebih memilih jalur karier sebagai individual contributor dibanding mengelola orang lain.

“Anak muda hari ini melihat aset bukan kantor atau jabatan, tapi uang dan fleksibilitas. Mereka tidak mau kerja formal, tidak mau punya bos,” tutur Rhenald.

Perubahan tersebut memaksa perusahaan melakukan antisipasi serius. Otomatisasi dan robotisasi menjadi keniscayaan, bukan pilihan. Industri padat karya berisiko tertekan, sementara sektor-sektor yang sebelumnya dianggap sekunder justru menunjukkan pertumbuhan.

“Industri yang tumbuh sekarang justru yang dulu dianggap tidak utama. Contohnya makanan hewan peliharaan. Orang Indonesia itu sayang kucing,” ujar Rhenald.

Diskusi ini juga dihadiri Direktur Komunikasi Deep Intelligence Research (DIR), Neni Nur Hayati, yang menegaskan bahwa big data kini menjadi instrumen penting untuk membaca arah bisnis sekaligus peta politik.

“Big data menjadi bagian krusial untuk melihat peta bisnis dan politik secara lebih akurat. Dengan data, kebijakan dan strategi bisa lebih menjawab kebutuhan pasar dan masyarakat, bukan sekadar reaksi terhadap kegaduhan,” kata Neni.

Menurut Neni, tanpa pendekatan berbasis data, negara dan pelaku usaha akan tertinggal dalam merespons perubahan perilaku publik yang bergerak cepat dan emosional.

Ketika kebenaran menjadi relatif dan emosi publik mudah digerakkan algoritma, batas antara strategi bisnis dan strategi politik pun semakin tipis. Dalam situasi itu, kata Rhenald, pelaku usaha tak cukup hanya membaca laporan keuangan.

“Bisnis hari ini harus membaca teknologi, perilaku sosial, dan arah politik sekaligus,” ujarnya.

Baca Juga  Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 5,8–6,5 Persen pada 2027

Breakfast Talk yang digagas Sahabat Rumah Perubahan menjadi pengingat bahwa Business Outlook 2026 bukan sekadar soal proyeksi ekonomi, melainkan soal bagaimana negara, pasar, dan masyarakat beradaptasi di tengah realitas baru—ketika data, emosi, dan algoritma sama pentingnya dengan modal kapital.

AI Big Data Kecerdasan Buatan Neni Nurhayati Rhenald Kasali Rumah Perubahan Sosial Media
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleSuzuki Fronx Tawarkan Fleksibilitas Ruang untuk Libur Panjang yang Aman dan Nyaman
Next Article Rel Kereta Terendam Banjir, Akses KA di Pekalongan Lumpuh

Berita Lainnya

Telkom CorpU Dorong Transformasi Talenta Lewat Forum CorpU Association Insight

17 Juli 2026 / 14:42 WIB

Menkeu Purbaya: Rupiah Melemah karena Faktor Global, Penguatan UMKM Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi

17 Juli 2026 / 09:55 WIB

Hong Kong Geser Singapura sebagai Investor Terbesar Indonesia pada Kuartal II-2026, Pertama dalam Satu Dekade

16 Juli 2026 / 16:50 WIB

Presiden Prabowo Kumpulkan DEN di Hambalang, Apa yang Dibicarakan?

14 Juli 2026 / 22:01 WIB

Menkeu Purbaya Pastikan Tarif Pajak Tidak Naik, Ini Strategi Barunya

14 Juli 2026 / 12:36 WIB

Imbas Manis Coretax: Setoran Pajak Melejit, Kepatuhan SPT Tinggi

13 Juli 2026 / 13:32 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Marc Marquez Pecahkan Rekor Lap Terbaik Sepanjang Masa di Le Mans

Deba Salamah10 Mei 2026 / 02:00 WIB

Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak

18 Juli 2026 / 16:19 WIB

Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya

18 Juli 2026 / 16:04 WIB

Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?

18 Juli 2026 / 16:00 WIB

Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul

18 Juli 2026 / 15:41 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.