La Magia di Como
Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo *)
———–
Danau nan indah itu tidak lagi memancarkan kesunyian yang elegan. Airnya kini seolah mendidih. Bergolak hebat.
Untuk kali pertama dalam sejarah panjangnya, Como 1907 berhasil menembus kompetisi Eropa. Bukan sekadar turnamen kelas dua atau Liga Malam Jumat. Ini kasta tertinggi yang paling sakral: UEFA Champions League (UCL).
Luar biasa. Gila. Sangat di luar akal!
Coba bayangkan. Klub yang belum lama ini dinyatakan bangkrut. Mati suri. Sempat terjerembab di dasar piramida sepak bola Italia, Serie D. Kasta amatir yang tak dilirik kamera televisi. Musim depan, mereka akan menjamu raksasa seperti Liverpool, Paris Saint Germain, Real Madrid atau Bayern Munich di Stadio Giuseppe Sinigaglia.
Siapa dalang di balik mukjizat ini? Anda pasti sudah tahu: Keluarga Hartono. Taipan Indonesia yang namanya mungkin lebih popular di Indenesia dibanding Como.
Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, datang ke Eropa tidak dengan gaya pangeran minyak. Mereka tidak ugal-ugalan menghamburkan uang untuk membeli superstar yang sudah uzur. Tidak ada ego murahan di sana.
Keduanya memilih jalan sunyi. Membangun fondasi. Memperbaiki fasilitas latihan yang sebelumnya ala kadarnya. Membenahi struktur manajemen agar jauh lebih profesional.
Mereka sangat sabar. Ia mulai dengan membenahi manajemen finansial. Lalu memfokuskan pencarian bakat dengan teliti. Orang kaya dari Kudus ini membuktikan satu hal mutlak: di industri sepak bola modern, kecerdasan sistem jauh lebih penting daripada sekadar dompet tebal.
Lalu, siapa koki jenius di pinggir lapangan?
Namanya Cesc Fàbregas. Mantan pemain Arsenal, Chelsea, dan Barcelona ini rupanya bukan hanya piawai mengolah bola. Otaknya di kursi pelatih ternyata sama tajamnya dengan umpan terobosan di masa jayanya.
Gaya main Como di bawah asuhan Fàbregas mendobrak pakem. Tidak ada lagi taktik catenaccio yang kaku dan membosankan khas Italia tempo dulu. Fàbregas menyuntikkan filosofi sepak bola proaktif. Permainan kombinasi dari kaki ke kaki. Transisi yang mematikan. Menyerang dengan elegan, tapi bertahan dengan daya juang spartan.
Fàbregas sangat sadar diri. Skuadnya bukanlah kumpulan Galacticos. Namun, ia berhasil menyulap mereka menjadi sebuah orkestra yang padu. Kolektivitas adalah senjata utama. Ia menerapkan taktik bunglon. Melawan tim lemah, Como mengurung dan mendominasi penguasaan bola. Melawan tim raksasa, mereka berubah menjadi pembunuh berdarah dingin lewat serangan balik kilat. Lawan pun mati kutu.
Lantas, apa dampak semua kegilaan ini bagi warga Como?
Jawabannya: Dahsyat. Ini adalah sebuah revolusi sosial.
Selama berabad-abad, Como hanya dikenal karena dua hal: Aktor George Clooney dan vila-vila mewahnya. Kota ini adalah surga bagi turis kaya raya. Tempat para pensiunan mencari ketenangan di tepi danau yang memantulkan cahaya senja. Como identik dengan kota yang diam.
Hari ini? Como menjelma menjadi kota para pejuang. Kota yang meledak oleh gairah.
Setiap akhir pekan, jalanan berbatu dan kafe-kafe klasik penuh sesak. Bukan oleh turis asing yang sibuk berfoto, melainkan oleh warga lokal yang bernyanyi lantang. Kakek, ayah, hingga cucu berpelukan di tribun stadion. Mereka berdebat membicarakan taktik sambil menyeruput espresso.
Jersey biru Como ludes di pasaran. Roda ekonomi lokal berputar makin kencang. Hotel-hotel kini penuh bukan hanya oleh pasangan yang sedang bulan madu, tapi oleh para suporter tandang yang datang untuk menonton sepak bola.
Anak-anak muda Como kini punya pahlawan lokal. Mereka tidak perlu lagi pergi jauh-jauh ke Milan untuk numpang merayakan kejayaan. Kebanggaan itu kini lahir dan tumbuh di halaman rumah mereka sendiri.
Musim depan, lagu kebesaran UCL akan menggema di tepi danau itu. Ini adalah mahakarya. Sebuah perpaduan epik: Modal dari Kudus, taktik brilian dari Catalunya, dan gairah tak terbatas dari Lombardy.
Eropa, bersiaplah. Como segera mengguncang kasta tertinggi Benua Biru.
——
*) Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura

