Jakarta (tutur.co.id) — Gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir dinilai menjadi sinyal bahwa pasar semakin sensitif terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah, khususnya terkait tata kelola ekspor sumber daya alam dan pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
Konsultan dan perencana keuangan Elvi Diana menilai volatilitas pasar yang terjadi menunjukkan pelaku pasar masih menunggu kepastian terkait mekanisme bisnis, transparansi tata kelola, hingga dampak kebijakan tersebut terhadap iklim investasi nasional.
“Pergerakan IHSG dalam dua hari terakhir memperlihatkan bahwa pasar sangat sensitif terhadap kebijakan ekonomi pemerintah, terutama kebijakan yang menyangkut tata kelola sumber daya alam dan arsitektur baru pengelolaan ekspor nasional,” ujar Elvi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, pasar modal tidak hanya bereaksi terhadap data ekonomi aktual, tetapi juga terhadap persepsi, ekspektasi, dan ketidakpastian kebijakan. Dalam pendekatan behavioral finance, sentimen dan komunikasi kebijakan memiliki pengaruh besar terhadap arah pergerakan pasar.
Karena itu, Elvi menilai pemerintah perlu menyiapkan mitigasi yang matang setiap kali meluncurkan kebijakan strategis agar volatilitas pasar dapat ditekan.
Ia menekankan pentingnya roadmap kebijakan yang transparan, penjelasan yang komprehensif, serta kepastian hukum untuk menjaga kepercayaan investor.
“Pemerintah harus memastikan bahwa setiap kebijakan baru memiliki roadmap yang transparan, penjelasan yang komprehensif, serta jaminan kepastian hukum. Tanpa itu, pasar akan mudah bereaksi negatif karena investor membaca adanya risiko tambahan,” katanya.
Menurut Elvi, stabilitas IHSG tidak hanya berdampak pada perdagangan saham, tetapi juga memengaruhi arus investasi, kepercayaan dunia usaha, dan kondisi ekonomi nasional secara keseluruhan.
Di tengah tekanan pasar tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru tetap optimistis IHSG berpeluang kembali menembus level 8.000 seiring fundamental ekonomi nasional yang dinilai masih kuat.
Purbaya mengatakan pergerakan saham pada akhirnya ditentukan oleh fundamental perusahaan dan kondisi ekonomi domestik.
“Kalau ekonominya bagus, profitability juga meningkat. Jadi harusnya sih enggak mungkin kalau perusahaannya untung, sahamnya jatuh. Berarti undervalued. Beli saja, pasti untungnya,” ujar Purbaya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Ia meminta pelaku pasar tidak terlalu khawatir terhadap kondisi pasar saat ini dan memastikan pemerintah akan terus memperbaiki kondisi ekonomi agar pertumbuhan berjalan lebih cepat.
Optimisme tersebut mulai tercermin dari pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat (22/5/2026), ketika indeks berhasil rebound 1,10 persen atau naik 67,10 poin ke level 6.162,04 setelah sebelumnya mengalami tekanan tajam.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 5.966,86 hingga 6.171,96.
“Kalau lihat dari teknikalnya sih, minggu depan sudah lari kencang,” kata Purbaya.
Di tengah peluang technical rebound tersebut, KB Valbury Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham pilihan untuk perdagangan Senin (25/5/2026).
Saham Timah (TINS) direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp3.850. Selain itu, Aneka Tambang (ANTM) memiliki target harga Rp3.190 dan Vale Indonesia (INCO) ditargetkan menuju Rp5.875.
KB Valbury juga merekomendasikan saham Adaro Andalan Indonesia (AADI) dengan target Rp8.425, serta buy on weakness untuk Astra Agro Lestari (AALI) dengan target Rp6.750.
Sementara itu, PP London Sumatra Indonesia (LSIP) direkomendasikan dengan target harga Rp1.360.
Pelaku pasar kini masih mencermati arah kebijakan pemerintah, stabilitas rupiah, serta potensi arus modal asing menjelang implementasi rebalancing indeks global pada akhir Mei.

