Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak mixed cenderung menguat terbatas pada perdagangan Senin (25/5/2026), setelah tekanan besar yang melanda pasar dalam sepekan terakhir mulai memunculkan peluang technical rebound.
Pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026), IHSG berhasil bangkit 67,10 poin atau 1,10 persen ke level 6.162,04. Meski demikian, penguatan tersebut belum mampu menutup luka pasar setelah indeks terkoreksi hingga 8,35 persen sepanjang pekan lalu.
Pelaku pasar masih dibayangi kombinasi sentimen domestik dan global yang menekan kepercayaan investor, mulai dari pelemahan rupiah, kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis, hingga potensi capital outflow akibat rebalancing indeks MSCI yang akan efektif pada akhir Mei.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menilai tekanan pasar pekan lalu dipicu kekhawatiran investor terhadap rencana sentralisasi ekspor komoditas melalui Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
Kebijakan tersebut dinilai pasar berpotensi menekan margin emiten komoditas karena fleksibilitas penjualan kepada pembeli premium menjadi lebih terbatas. Di saat bersamaan, nilai tukar rupiah juga kembali melemah ke level Rp17.712 per dolar Amerika Serikat meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin.
“Kami melihat pasar terus berharap intervensi tetap dilakukan supaya target normalisasi rupiah dapat terjadi,” ujar Audi.
Secara teknikal, Kiwoom Sekuritas melihat ruang rebound mulai terbuka setelah indikator RSI bergerak dari area oversold. IHSG diperkirakan bergerak pada rentang support 5.909 dan resistance 6.305.
Sentimen eksternal juga mulai memberi ruang napas bagi pasar setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyebut adanya perkembangan positif dalam pembicaraan damai dengan Iran. Pernyataan tersebut memicu optimisme di pasar global dan membuka peluang penguatan terbatas bagi aset berisiko.
Namun, pasar domestik diperkirakan masih akan cenderung wait and see. Investor tetap mencermati arah rupiah dan dampak lanjutan dari kebijakan pemerintah terkait tata kelola ekspor komoditas strategis.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menambahkan tekanan IHSG dalam sepekan terakhir juga diikuti aksi jual bersih investor asing mencapai Rp1,86 triliun di pasar reguler.
Menurut dia, posisi IHSG kini berada di area support psikologis penting yang mendekati level market shock 2025 di kisaran 5.800-5.900, sehingga peluang technical rebound masih cukup terbuka selama level tersebut mampu dipertahankan.
“Tekanan terjadi akibat kombinasi sentimen domestik dan global yang membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati,” ujarnya.
Pasar juga menanti implementasi rebalancing MSCI yang dinilai masih berpotensi memicu arus keluar dana asing, khususnya pada saham-saham yang mengalami pengurangan bobot indeks.
Di tengah volatilitas pasar tersebut, sejumlah saham mulai direkomendasikan analis untuk dicermati. Kiwoom Sekuritas merekomendasikan speculative buy pada Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) dan Merdeka Battery Materials (MBMA).
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham ESSA Industries Indonesia (ESSA), Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), serta buy on break untuk MBMA.
Adapun MNC Sekuritas menilai area koreksi IHSG berikutnya masih berpotensi menguji level 5.899, dengan rekomendasi trading pada saham Astra International (ASII), Harum Energy (HRUM), Indosat (ISAT), dan J Resources Asia Pasifik (PSAB).

