Jakarta (tutur.co.id) – Pemerintah siap turun lebih aktif ke pasar obligasi untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut dilakukan melalui pengaktifan kembali skema Bond Stabilization Fund guna menjaga stabilitas pasar surat berharga negara (SBN).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah akan mulai masuk ke pasar obligasi, khususnya untuk SBN tenor 10 tahun, guna menahan kenaikan yield yang berpotensi memicu arus keluar modal asing.
“Kita akan mulai membantu, mungkin dengan masuk ke bond market. Itu yang disebut sebagai Bond Stabilization Fund,” ujar Purbaya kepada awak media di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (12/5/2026).
Bond Stabilization Fund merupakan mekanisme pembelian kembali SBN di pasar sekunder saat tekanan pasar meningkat dan yield obligasi melonjak akibat aksi jual investor. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus menopang nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah sekitar 0,6% ke level Rp17.510 per dolar AS pada perdagangan intraday Selasa (12/5/2026). Posisi tersebut jauh di atas asumsi kurs dalam APBN 2026 yang dipatok di level Rp16.500 per dolar AS.
Purbaya menjelaskan kenaikan yield SBN dapat memicu capital loss bagi investor asing pemegang obligasi Indonesia. Jika tekanan terus berlanjut, investor asing berpotensi menarik dana mereka dari pasar domestik sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.
“Kita masuk ke bond market supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi. Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya asing yang pegang bond di sini ada capital loss. Dia akan keluar,” kata Purbaya.
Hingga 26 April 2026, imbal hasil SBN Indonesia tercatat sebesar 6,76%, sedangkan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat berada di level 4,39%. Selisih imbal hasil atau spread sebesar 237 basis poin tersebut dinilai penting untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah tekanan global.
Pemerintah berharap intervensi di pasar obligasi dapat membantu menjaga stabilitas pasar keuangan, mempertahankan aliran modal asing, dan menopang penguatan rupiah di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.

