Jakarta (tutur.co.id) – Ekonomi Asia pada 2026 tetap tumbuh, namun mulai melambat di tengah tekanan global yang semakin kuat. Konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi dan gangguan pasokan minyak dunia. Kondisi ini membuat banyak negara di Asia harus menyesuaikan strategi ekonominya.
Tekanan utama datang dari krisis energi global yang berdampak langsung pada kawasan Asia. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, yang kini terganggu akibat konflik. Akibatnya, harga minyak tetap berada di atas 100 dolar per barel, sebagaimana dilaporkan The New York Times dan memicu inflasi di berbagai negara.
Dampaknya mulai terlihat pada proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan. Bank Pembangunan Asia bahkan memperkirakan pertumbuhan Asia turun menjadi sekitar 4,7% pada 2026 akibat tekanan energi dan inflasi. Negara-negara dengan ketergantungan impor energi tinggi menjadi yang paling terdampak.
China masih mencatat pertumbuhan stabil di kisaran 4-5% pada 2026, namun lajunya sedikit melambat dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor ekspor dan industri, sebagaimana dicatat oleh Bank of Finland. Risiko dari sektor properti dan utang daerah juga menjadi tantangan jangka panjang.
Sementara itu, India tetap menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat, meski mengalami revisi. Proyeksi pertumbuhan diturunkan dari 7,1% menjadi sekitar 6,4% oleh Standard Chartered akibat tekanan global dan kenaikan harga energi. Ketergantungan terhadap impor minyak membuat inflasi dan biaya produksi meningkat.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan tinggi tidak selalu berarti stabil. Negara dengan eksposur besar terhadap energi global lebih rentan terhadap guncangan eksternal. Hal ini menjadi tantangan utama bagi India dalam menjaga momentum ekonominya.
Di tengah tekanan tersebut, Indonesia justru menunjukkan stabilitas yang cukup kuat. Data terbaru menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,6% pada awal 2026, didorong oleh konsumsi domestik dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari setengah PDB menjadi faktor utama penopang ekonomi nasional.
Struktur ekonomi Indonesia yang lebih berimbang membuat dampak krisis global relatif lebih terkendali.
Ketergantungan terhadap ekspor dan impor energi tidak sebesar negara lain di kawasan. Hal ini memberi ruang bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa arah ekonomi Asia tidak hanya ditentukan oleh kecepatan pertumbuhan. Dalam kondisi global yang penuh tekanan, stabilitas dan ketahanan menjadi faktor utama yang menentukan kekuatan ekonomi suatu negara di tengah tekanan global.

