Jakarta (tutur.co.id) – Aplikasi kebugaran Strava yang populer di kalangan pelari dan pesepeda global kini kembali menjadi sorotan. Di balik fitur pelacakan aktivitas berbasis GPS yang canggih, platform ini dinilai menyimpan potensi risiko serius terhadap privasi hingga keamanan.
Diluncurkan pada 2009 oleh Michael Horvath dan Mark Gainey, Strava telah berkembang pesat dengan lebih dari 125 juta pengguna dari 190 negara. Aplikasi ini memungkinkan pengguna melacak aktivitas olahraga, membagikan rute, hingga berinteraksi dengan komunitas melalui fitur “kudos”.
Namun, kemudahan berbagi data tersebut justru menjadi celah yang berpotensi membahayakan.
Laporan investigasi dari Le Monde mengungkap bahwa data aktivitas Strava secara tidak langsung membocorkan pergerakan tokoh penting dunia. Nama-nama seperti Joe Biden, Kamala Harris, hingga Donald Trump ikut terseret dalam temuan tersebut.
Menariknya, mereka bukan pengguna Strava. Kebocoran justru berasal dari aktivitas agen pengamanan yang menggunakan aplikasi tersebut untuk mencatat olahraga harian.
Dari pola rute yang diunggah, lokasi sensitif seperti hotel hingga titik pertemuan penting dapat terdeteksi. Bahkan, aktivitas di sekitar pertemuan antara Biden dan Presiden China, Xi Jinping, sempat terungkap.
Kasus serupa juga ditemukan di sejumlah negara lain. Di Prancis, aktivitas anggota pengamanan Presiden Emmanuel Macron teridentifikasi melalui data Strava. Sementara di Rusia, personel pengamanan Presiden Vladimir Putin juga dikaitkan dengan kebocoran serupa.
Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan sistem keamanan negara dengan standar tinggi pun tidak kebal terhadap risiko digital.
Isu keamanan Strava sebenarnya bukan hal baru. Pada 2018, fitur heatmap global yang menampilkan aktivitas pengguna secara agregat sempat mengungkap lokasi pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah konflik seperti Suriah dan Afghanistan.
Data tersebut berasal dari aktivitas para tentara yang tanpa sadar membagikan rute latihan mereka.
Tak hanya bagi tokoh penting, risiko juga mengintai pengguna biasa. Data rute yang dibagikan secara publik dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab, termasuk untuk menguntit atau memantau kebiasaan seseorang.
Fenomena seperti “joki Strava” di mana seseorang membayar orang lain untuk merekam aktivitas olahraga demi terlihat aktif juga menunjukkan adanya dorongan berlebihan untuk eksistensi digital.
Strava sebenarnya menyediakan fitur pengaturan privasi, termasuk opsi menyembunyikan rute atau membatasi siapa yang dapat melihat aktivitas. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kesadaran pengguna.
Pengamat menilai, kebiasaan oversharing menjadi akar utama persoalan. Semakin banyak data yang dibagikan, semakin besar pula potensi risiko yang muncul.
Di satu sisi, Strava memberikan manfaat besar dalam memantau kesehatan dan membangun komunitas olahraga global. Namun di sisi lain, platform ini menjadi cerminan tantangan era digital: kemudahan akses yang berbanding lurus dengan potensi ancaman privasi.
Karena itu, pengguna diimbau lebih bijak dalam membagikan data aktivitas, terutama yang berkaitan dengan lokasi. Dalam dunia digital, menjaga privasi bukan hanya tanggung jawab platform, tetapi juga pengguna itu sendiri. (sas)

