Miami (Tutur.co.id) – Perjalanan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026 memang telah berakhir. Namun, tim debutan asal Afrika itu meninggalkan turnamen dengan kehormatan yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil di papan skor. Tanjung Verde memaksa juara bertahan Argentina bertarung hingga babak perpanjangan waktu sebelum akhirnya kalah tipis 2-3 pada babak 32 besar di Hard Rock Stadium, Miami, Sabtu (4/7/2026) pukul 05.00 WIB.
Menghadapi tim peringkat pertama dunia yang diperkuat Lionel Messi, Tanjung Verde tampil tanpa rasa gentar. Dua kali mereka berhasil menyamakan kedudukan melalui Deroy Duarte dan Sidny Lopes Cabral, membuat Argentina berada di bawah tekanan sepanjang pertandingan. Baru pada menit ke-111 Albiceleste memastikan kemenangan setelah gol bunuh diri Diney Borges yang berawal dari situasi bola mati.
Meski gagal melangkah ke babak 16 besar, Tanjung Verde justru menjadi salah satu tim yang paling banyak menuai pujian sepanjang Piala Dunia 2026. Semangat pantang menyerah, disiplin bertahan, serta keberanian melawan salah satu kandidat juara membuat mereka mendapat respek dari pengamat, mantan pemain, hingga pecinta sepak bola di seluruh dunia.
Salah satu sosok yang paling bersinar adalah kiper veteran Vozinha. Penjaga gawang berusia 40 tahun itu tampil luar biasa dengan menggagalkan sejumlah peluang emas Argentina dan mencatat delapan penyelamatan penting sepanjang laga.
Mantan bek timnas Inggris, Gary Neville, bahkan meyakini penampilan tersebut akan membuka peluang baru bagi sang kiper.
“Vozinha akan mendapatkan klub yang lebih besar setelah Piala Dunia ini. Semua yang dilakukannya terlihat tenang dan penuh percaya diri. Penampilannya sungguh luar biasa,” kata Neville saat menjadi komentator ITV.
Pujian juga datang dari mantan penyerang Skotlandia, James McFadden, yang menilai Tanjung Verde telah menunjukkan nilai-nilai yang jauh melampaui hasil pertandingan.
“Tanjung Verde memang kalah, tetapi mereka juga menang. Mereka menunjukkan keberanian, persatuan, kebersamaan, dan keyakinan yang luar biasa terhadap kemampuan mereka,” ujar McFadden kepada BBC Radio 5 Live.
Performa impresif Tanjung Verde bahkan membuat Argentina mendapat peringatan keras menjelang babak berikutnya. Mantan penyerang Inggris, Ian Wright, menilai Albiceleste masih memiliki sejumlah kelemahan yang bisa dimanfaatkan lawan dengan kualitas lebih baik.
“Jika ada tim yang memiliki semangat seperti Tanjung Verde, tetapi dengan kualitas penyelesaian akhir yang lebih baik, Argentina bisa dikalahkan karena mereka masih lemah di area sayap,” kata Wright kepada ITV.
Di balik kekalahan tersebut, gelombang apresiasi terus mengalir di media sosial. Jurnalis transfer ternama Fabrizio Romano menjadi salah satu figur yang memberikan penghormatan khusus kepada perjuangan Tanjung Verde.
“Kalian tidak tersingkir, Cape Verde. Tidak sama sekali, dari hati penggemar sepak bola, selamanya di kenangan,” tulis Romano melalui akun Instagram pribadinya.
Ungkapan serupa membanjiri berbagai platform media sosial seperti X, Instagram, dan TikTok. Banyak penggemar sepak bola menyebut Tanjung Verde sebagai “tim kejutan terbaik” dan “pemenang di hati pencinta sepak bola” berkat keberanian mereka menghadapi lawan-lawan yang secara kualitas jauh lebih unggul.
Selama tampil di Piala Dunia 2026, Tanjung Verde memang menulis kisah yang sulit dilupakan. Mereka berhasil menahan Spanyol dan Uruguay pada fase grup, lolos ke babak gugur pada penampilan perdana di Piala Dunia, lalu memaksa juara bertahan Argentina berjuang hingga babak tambahan waktu.
Kekalahan dari Argentina memang mengakhiri perjalanan mereka di turnamen ini. Namun, Tanjung Verde pulang dengan kepala tegak karena telah memberikan segalanya di lapangan yakni keberanian, semangat pantang menyerah, organisasi permainan yang disiplin, dan keyakinan bahwa sepak bola tidak selalu ditentukan oleh nama besar.
Meski gagal melaju, mereka telah memenangkan sesuatu yang tak kalah berharga yaitu rasa hormat dan hati jutaan pencinta sepak bola di seluruh dunia.

