Jakarta (tutur.co.id) – Mantan Menteri BUMN, Sofyan Djalil, mengungkap praktik tidak sehat dalam proses rekrutmen pimpinan perusahaan pelat merah yang ia sebut sebagai fenomena “tawaf”. Istilah ini merujuk pada upaya mencari dukungan dari pihak eksternal, termasuk partai politik, demi memperoleh posisi strategis di jajaran direksi. Ia menilai praktik tersebut menjadi salah satu persoalan serius yang merusak profesionalisme dan independensi dalam pengelolaan BUMN.
Menurut Sofyan, direksi yang terpilih melalui jalur non-profesional cenderung memiliki keterikatan politik yang memengaruhi pengambilan keputusan bisnis. Kondisi ini membuat kebijakan perusahaan tidak lagi sepenuhnya berorientasi pada kepentingan korporasi, melainkan dipengaruhi oleh komitmen di luar struktur resmi. Ia menegaskan bahwa situasi tersebut berpotensi menurunkan kinerja BUMN secara keseluruhan dan menghambat terciptanya tata kelola perusahaan yang sehat dan akuntabel.
