Jakarta (tutur.co.id) – Lonjakan harga energi akibat konflik Iran mulai mengguncang industri fast fashion global. Dampaknya terasa pada rantai pasok polyester di Asia yang menjadi pusat produksi pakaian dunia.
Kenaikan biaya ini bahkan dilaporkan mencapai hampir 30% pada sejumlah bahan baku utama. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga pakaian.
Dilansir dari Reuters, Jumat 24 April 2026, kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya biaya bahan baku seperti purified terephthalic acid (PTA) dan monoethylene glycol (MEG). Gangguan pasokan dari Timur Tengah serta kenaikan harga dari pemasok China memperparah tekanan.
Produsen tekstil di Asia mulai kesulitan menjaga stabilitas produksi akibat ketergantungan pada bahan berbasis minyak.
Tekanan tidak hanya terjadi di tingkat bahan baku, tetapi juga merambat ke proses produksi. CEO Bindal Silk Mills, Avichal Arya, menyebut biaya bahan kimia dan pewarna meningkat drastis akibat krisis energi. Kondisi tersebut juga diperparah oleh berkurangnya tenaga kerja akibat kelangkaan energi.
“Kami tidak mampu memenuhi permintaan global secara optimal saat ini,” ujar Avichal Arya.
Polyester merupakan bahan utama dalam industri tekstil global, dengan kontribusi sekitar 59% dari total produksi serat dunia. Karena berasal dari turunan minyak, bahan ini sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi.
Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz turut memperketat pasokan bahan baku. Dampak ini tidak hanya terasa di tingkat produksi, tetapi juga merambat ke pasar global.
Di sisi hilir, sejumlah brand fast fashion global masih belum merasakan dampak langsung. Hal ini karena mereka telah mengamankan stok melalui pembelian sebelumnya. CEO Associated British Foods, George Weston, menyebut inflasi biaya baru akan terasa jika pembelian dilakukan saat ini.
Tanda-tanda kenaikan harga mulai terlihat di tingkat pemasok. Dilansir dari Reuters, sejumlah produsen di Bangladesh mulai mengajukan kenaikan harga kepada brand global seperti H&M. Jika tren ini berlanjut, biaya produksi kemungkinan akan diteruskan ke konsumen. Artinya, kenaikan harga pakaian menjadi semakin sulit dihindari.
Di sisi produksi, dampak sudah terlihat di lapangan. Beberapa pabrik tekstil di India melaporkan penurunan produksi dari 10.000 meter per hari menjadi sekitar 3.500 hingga 4.000 meter. Bahkan, sebagian pabrik terpaksa mengurangi hari operasional untuk menekan biaya. Hal ini menunjukkan tekanan yang semakin nyata di sektor industri tekstil.
Tidak hanya industri pakaian, sektor sepatu juga ikut terdampak. Banyak komponen sepatu menggunakan bahan berbasis petrokimia seperti karet sintetis dan busa. Reuters mencatat setidaknya ada 25 komponen sepatu yang bergantung pada bahan turunan minyak.
Tekanan biaya yang terus meningkat membuka potensi terjadinya “demand destruction” atau penurunan permintaan. Ketika harga naik, konsumen cenderung menahan pembelian. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengubah pola konsumsi di industri fast fashion. Kenaikan harga bukan lagi sekadar kemungkinan, tetapi risiko nyata yang kini membayangi industri fast fashion global.

