Jakarta (tutur.co.id) — Kilau emas belum kehilangan tenaganya. Di tengah dunia yang makin gelisah oleh konflik geopolitik dan kegamangan pasar global, harga emas justru terus melaju di jalur penguatan. Kondisi ini dinilai memberi angin segar bagi saham-saham emiten emas yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
MNC Sekuritas melihat tren harga emas global masih bergerak naik dan berpotensi menjadi pendorong kinerja saham-saham sektor tambang emas. Ketegangan geopolitik yang belum mereda serta kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menopang penguatan tersebut.
Kepala Riset Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai kenaikan harga emas saat ini masih sesuai dengan proyeksi internal perusahaan. Ia menyebut tren penguatan belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah.
“Kenaikan harga emas ini masih cenderung inline dengan analisis kami yang masih relatif uptrend,” ujarnya kepada tutur.co.id, Selasa (13/1/2026).
Menurut Herditya, memanasnya hubungan geopolitik di sejumlah kawasan ikut mengerek minat investor terhadap aset aman. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dengan Venezuela dan Iran dinilai menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya permintaan emas.
“Ketegangan geopolitik baik antara AS–Venezuela dan AS–Iran turut mendorong permintaan aset safe haven seperti emas,” katanya.
Selain faktor geopolitik, pasar juga tengah mencermati isu lain yang tak kalah sensitif. Kekhawatiran terhadap independensi bank sentral Amerika Serikat kembali mencuat setelah muncul ancaman dari Departemen Kehakiman AS terkait kesaksian proyek Gedung Putih. Situasi ini menambah lapisan ketidakpastian global, sekaligus memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai.
Dalam kondisi tersebut, MNC Sekuritas menilai penguatan harga emas berpeluang memberikan dampak positif terhadap saham-saham emiten emas di pasar domestik. Sejumlah saham direkomendasikan dengan strategi Buy dan Trading Buy, di antaranya ANTM, MDKA, PSAB, ARCI, dan HRTA.
Sementara itu, pergerakan pasar saham secara umum masih diwarnai koreksi. Pada perdagangan 13 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan tercatat melemah 0,58 persen ke level 8.884. Meski terkoreksi, MNC Sekuritas melihat peluang penguatan masih terbuka.
Berdasarkan MNCS Daily Scope Wave, posisi IHSG diperkirakan berada di awal wave iii dari wave (v). Dengan posisi tersebut, indeks masih berpeluang melanjutkan penguatan ke area 9.032 hingga 9.100.
Untuk jangka pendek, level support IHSG berada di kisaran 8.839 dan 8.764, sementara resistance berada di level 8.908 dan 8.996. Adapun saham rekomendasi harian MNC Sekuritas mencakup ASII, HRUM, INKP, dan UNVR.

