Jakarta (tutur.co.id) – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melesat sejak awal tahun di saat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menegaskan adanya divergensi sentimen di pasar keuangan domestik. Kurs rupiah saat ini mendekati 17 ribu rupiah er dollar AS.
Kepala Riset Ritel MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai penguatan IHSG yang terjadi belakangan ini tidak sejalan dengan arah pergerakan rupiah yang masih berada dalam tekanan. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan dominasi sentimen eksternal, khususnya dari sisi komoditas global.
“Pergerakan IHSG yang terus menguat dapat dikatakan berlawanan dengan rupiah yang melemah terhadap dolar AS. Kami memperkirakan penguatan IHSG ini didukung oleh kenaikan harga komoditas global, terutama emas yang menguat di tengah meningkatnya gejolak geopolitik global,” ujar Herditya kepada redaksi tutur.co.id, Selasa (21/1/2026).
Ia menjelaskan, lonjakan harga emas dan sejumlah komoditas unggulan menjadi katalis positif bagi saham-saham berbasis sumber daya alam, sehingga menopang kinerja indeks meskipun tekanan eksternal terhadap mata uang domestik masih kuat.
Di sisi lain, pelemahan rupiah diperkirakan berasal dari kombinasi faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, pasar mencermati risiko fiskal yang semakin mendekati batas psikologis.
“Pelemahan nilai tukar rupiah kami perkirakan dipengaruhi oleh gejolak domestik seperti defisit fiskal yang mendekati 3%,” jelas Herditya.
Pelebaran defisit fiskal hingga mendekati batas maksimum selalu menjadi wilayah sensitif dalam kebijakan makro Indonesia. Di satu sisi, ruang defisit memberi pemerintah amunisi untuk mendorong belanja, subsidi, dan proyek padat karya. Di sisi lain, langkah ini meningkatkan tekanan pembiayaan utang dan mempersempit ruang fiskal jangka menengah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, pemerintah secara sadar memilih memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 hingga 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), mendekati ambang batas konstitusional 3 persen.

“Defisit fiskal itu dipakai seperti itu untuk apa? Untuk menggairahkan perekonomian dalam negeri. Kita hidupkan permintaan maupun penawaran di dalam negeri, karena kita tahu dari awal tahun lalu sampai Agustus melambat terus,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, dikutip Selasa (20/1/2026).
Sementara dari sisi eksternal, sentimen pasar dibayangi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionisme Amerika Serikat. Ancaman tarif impor yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara yang menentang kepentingan strategis AS, termasuk terkait isu Greenland, turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, Herditya menilai investor relatif mampu merespons risiko tersebut secara terukur. Pasar saham dinilai masih memiliki ruang untuk bertahan, dengan catatan investor bersikap lebih selektif.
“Risiko dan permasalahan dalam negeri ini dapat disikapi dengan cermat oleh investor. Investor dapat terus mengikuti perkembangan global dan domestik serta cenderung lebih selektif dalam pemilihan saham dan instrumen investasi,” tambahnya.
‘Secara teknikal, IHSG pada perdagangan Selasa tercatat menguat tipis 0,01% ke level 9.134. Namun, penguatan tersebut mulai disertai dengan munculnya tekanan jual setelah target kenaikan sebelumnya tercapai,” ujar Herditya dalam MNCS Daily Scope Wave.
MNC Sekuritas memperingatkan potensi koreksi lanjutan dalam jangka pendek ke area 9.088–9.106, yang masih merupakan bagian dari wave (v) dari wave [iii]. Adapun peluang penguatan berikutnya diperkirakan berada di rentang 9.192–9.229.
Untuk level teknikal, support IHSG berada di area 9.008 dan 8.956, sementara resistance terdekat berada di 9.192 dan 9.227.
Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, MNC Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham pilihan yang dinilai memiliki prospek relatif defensif dan atraktif, yakni ACES, ARCI, INCO, dan INKP.
Jakarta (tutur.co.id) —

