Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat reli signifikan dalam sepekan terakhir. Dalam periode 8–14 April 2026, indeks melonjak 10,09% dan ditutup di level 7.675.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG naik dari posisi 6.971 ke 7.661, dengan penguatan ditopang saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Prajogo Pangestu.
Pada perdagangan Selasa (14/4/2026), IHSG ditutup menguat 175,76 poin atau 2,34% ke level 7.675. Nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp23,52 triliun. Secara mingguan, kenaikan indeks mencapai 10,11%.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai lonjakan ini merupakan hasil kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, ekspektasi stabilisasi suku bunga mendorong meredanya tekanan capital outflow dan meningkatkan minat risiko (risk appetite) terhadap pasar emerging, termasuk Indonesia.
“Investor mulai melihat arah kebijakan moneter global lebih stabil, sehingga aliran dana ke pasar berkembang kembali terbuka,” ujarnya.
Dari dalam negeri, peran investor domestik dinilai semakin dominan dalam menjaga likuiditas pasar. Dukungan ini terlihat pada penguatan saham-saham big caps dan kelompok konglomerasi.
Selain itu, reli IHSG turut dipicu aksi short covering serta re-rating terhadap saham yang sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam.
Meski demikian, Elandry mengingatkan penguatan ini belum sepenuhnya mencerminkan tren bullish yang solid. Ia menilai IHSG masih berada dalam fase rebound yang kuat, namun tetap memerlukan konfirmasi lanjutan, terutama dari arus dana asing dan kinerja emiten.
“Dalam jangka menengah arah mulai membaik, tetapi jangka pendek masih berpotensi terjadi pullback atau konsolidasi,” katanya.
Saham Pilihan
Sejumlah saham dinilai menarik untuk dicermati dalam kondisi pasar saat ini.
BRMS bergerak relatif terbatas, namun berpotensi menuju kisaran Rp920–Rp1.050 seiring sentimen positif komoditas. Sementara itu, BUVA berada dalam fase pemulihan dengan target harga Rp1.300–Rp1.450.
Adapun BRPT masih menjadi motor penggerak utama IHSG dengan karakter high beta. Saham ini diproyeksikan bergerak ke kisaran Rp2.600–Rp2.900, meskipun volatilitas tetap tinggi.
Sebagai strategi lindung nilai (hedging), MEDC dinilai menarik di level Rp1.685, dengan potensi kenaikan ke Rp1.850–Rp2.000 apabila harga energi kembali menguat.
Prospek IHSG
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Ahmad Faris Mu’tashim menambahkan, penguatan IHSG juga didukung meredanya volatilitas global.
Hal ini tercermin dari penurunan VIX Index ke bawah level 20, pelemahan indeks dolar AS (DXY) sekitar 2,5% dari puncaknya, serta penurunan yield US Treasury tenor 10 tahun dari 4,5% ke kisaran 4,2%.
Ke depan, IHSG dinilai masih memiliki ruang penguatan dengan target resistance terdekat di level 7.900, yang merupakan area gap yang belum tertutup. Sementara itu, level support berada di kisaran 7.430.
Di sisi sektoral, saham berbasis komoditas seperti migas dan batu bara masih menarik dicermati. BUMI memiliki support di Rp240 dan resistance di Rp296, sedangkan RAJA bergerak pada rentang support Rp4.620 dan resistance Rp5.175.

