Teheran (Tutur.co.id) – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memperingatkan bahwa berlanjutnya serangan Israel ke Lebanon berpotensi menggagalkan negosiasi gencatan senjata yang tengah berlangsung antara Teheran dan Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya melalui platform X pada Kamis (9/4/2026), Pezeshkian menegaskan kesiapan Iran untuk merespons jika situasi terus memburuk. “Berlanjutnya serangan akan membuat negosiasi sia-sia; jari kami tetap berada di pelatuk, dan Iran tidak akan meninggalkan saudaranya di Lebanon,” tulisnya.
Nada serupa disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menegaskan bahwa Lebanon dan kelompok yang disebut sebagai “Poros Perlawanan” merupakan bagian tak terpisahkan dari kesepakatan gencatan senjata.
“Lebanon dan seluruh Poros Perlawanan, sebagai sekutu Iran, adalah bagian tak terpisahkan dari gencatan senjata,” ujarnya, merujuk pada pernyataan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Ghalibaf juga memperingatkan bahwa setiap pelanggaran terhadap gencatan senjata akan berujung pada respons keras dari pihaknya. “Pelanggaran gencatan senjata bermakna ada harga yang harus dibayar dan akan ada balasan yang kuat,” tegasnya, sembari menyerukan agar eskalasi segera dihentikan.
Ketegangan meningkat setelah pasukan Israel melancarkan serangan udara ke Lebanon sejak Rabu (8/4/2026), meskipun telah tercapai kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran dengan Pakistan sebagai penengah.
Perbedaan pandangan pun muncul terkait cakupan kesepakatan tersebut. Iran dan Pakistan memandang Lebanon termasuk dalam ruang lingkup gencatan senjata, sementara Washington dan Tel Aviv menolak interpretasi tersebut.
Menurut otoritas pertahanan sipil Lebanon, serangan udara terbaru menyebabkan sedikitnya 254 orang tewas dan 1.165 lainnya terluka, menambah tekanan terhadap upaya deeskalasi di kawasan.
Di tengah situasi tersebut, sumber pemerintah Pakistan mengonfirmasi bahwa delegasi Amerika Serikat dan Iran akan menggelar perundingan langsung di Islamabad mulai Sabtu (11/4/2026). Pembicaraan itu ditujukan untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen dan diperkirakan berlangsung lebih dari satu hari.

