Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Tiga Faktor yang Bisa Membuat Tembok Baja Spanyol Ambruk
  • Iran Sebut AS Telah Menginjak-injak Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB
  • Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie
  • Tutur PoV: Jangan Biarkan Penegakan Hukum Berubah Menjadi “Jeruk Makan Jeruk”
  • Bocoran Mobil Baru yang Bakal Meluncur di GIIAS 2026, Siapa Bakal Jadi Primadona?
  • Tragedi KM Nurul Salsa di Selayar: 25 Penumpang Masih Hilang, Armada Pencarian Diperkuat
  • Mampukah Messi Menaklukkan Negeri yang Membesarkan Namanya?
  • Pasca Bencana Hidrometeorologi, Pemerintah Aceh Kerja Keras Pulihkan Akses Jalan
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Finance»Garuda Indonesia Rugi Rp5,4 Triliun pada 2025, Armada Tak Siap Terbang Jadi Beban

Garuda Indonesia Rugi Rp5,4 Triliun pada 2025, Armada Tak Siap Terbang Jadi Beban

Finance Gusti Tetiro23 Maret 2026 / 18:58 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Pesawat Garuda Indonesia (Foto: skyteam.com)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) —  Kinerja keuangan Garuda Indonesia sepanjang 2025 kembali tertekan. Maskapai pelat merah ini mencatatkan rugi bersih sebesar US$319,39 juta atau sekitar Rp5,42 triliun, melonjak tajam dibandingkan kerugian tahun sebelumnya yang berada di kisaran US$69,77 juta.

Tekanan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan operasional yang dihadapi perseroan, terutama pada semester pertama 2025. Pada periode tersebut, jumlah armada yang belum dapat dioperasikan (unserviceable aircraft) masih cukup tinggi karena menunggu jadwal perawatan, sehingga membatasi kapasitas produksi penerbangan.

Direktur Utama Glenny Kairupan menyebut kondisi tersebut menjadi faktor utama penurunan kinerja perusahaan.

“Tidak dapat dipungkiri penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025, di mana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance,” ujarnya.

Secara bertahap, kondisi armada mulai membaik pada paruh kedua tahun lalu. Hingga akhir 2025, jumlah pesawat yang siap terbang meningkat menjadi 99 unit, naik dari 84 unit pada pertengahan tahun. Meski demikian, masih terdapat 43 armada yang belum dapat dioperasikan dan masih dalam proses perawatan.

Keterbatasan armada tersebut berdampak langsung pada penurunan jumlah penumpang. Sepanjang 2025, Garuda Indonesia Group melayani sekitar 21,2 juta penumpang, turun 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Di tengah tantangan optimalisasi kapasitas produksi tersebut, jumlah penumpang tercatat 21,2 juta, terkoreksi 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Glenny.

Selain faktor armada, tekanan kinerja juga dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah serta meningkatnya biaya tetap. Program pemulihan armada yang belum sepenuhnya selesai turut mendorong kenaikan biaya operasional, termasuk biaya perawatan dan rantai pasok industri aviasi global yang masih menantang.

Dari sisi pendapatan, perusahaan membukukan pendapatan usaha sebesar US$3,21 miliar, turun dari US$3,41 miliar pada tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar masih berasal dari penerbangan berjadwal sebesar US$2,14 miliar, disusul penerbangan tidak berjadwal dan pendapatan lainnya.

Baca Juga  BI Berpotensi Tahan Suku Bunga 4,75% di Tengah Lonjakan Inflasi dan Tekanan Modal Asing

Sementara itu, total beban usaha tercatat mencapai US$3,10 miliar. Beban operasional penerbangan menjadi komponen terbesar, diikuti biaya pemeliharaan dan perbaikan yang mencapai lebih dari US$661 juta. Beban kebandaraan serta pelayanan penumpang juga turut menyumbang tekanan terhadap struktur biaya perusahaan.

Di tengah tekanan tersebut, manajemen mulai melihat tanda-tanda pemulihan, terutama setelah adanya dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada akhir 2025. Suntikan modal ini dinilai mulai memberikan dampak positif terhadap perbaikan operasional di semester kedua tahun lalu.

Ke depan, Garuda Indonesia menargetkan peningkatan kapasitas armada sebagai bagian dari strategi pemulihan. Perseroan menargetkan dapat mengoperasikan 68 pesawat Garuda dan 50 pesawat Citilink pada akhir 2026.

“Ke depan, dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid,” imbuh Glenny.

Dengan berbagai langkah transformasi yang tengah dijalankan, perusahaan berharap dapat keluar dari tekanan kinerja dan memasuki fase turnaround dalam beberapa tahun ke depan, meskipun tantangan industri penerbangan global masih membayangi.

armada pesawat Garuda Indonesia kinerja keuangan rugi bersih
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleSAI Kritik KPK: Pengalihan Tahanan Yaqut Dinilai Tidak Adil
Next Article Paapa Essiedu Terima Ancaman Rasis Usai Jadi Snape di Serial Harry Potter HBO

Berita Lainnya

Celios: Danantara Harus Perketat Seleksi Proyek Hilirisasi Usai Bergabung dengan Forum SWF Dunia

17 Juli 2026 / 16:58 WIB

Survei BI: Aktivitas Dunia Usaha Menguat pada Triwulan II 2026, Sektor Riil Jadi Penopang Utama

17 Juli 2026 / 15:58 WIB

IHSG Diproyeksikan Lanjut Menguat, Phintraco Rekomendasikan BBCA, ICBP, EXCL, TKIM, dan SMGR

17 Juli 2026 / 08:21 WIB

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat ke 6.130, ANTM, ARTO, dan ARCI Jadi Rekomendasi BRI Danareksa

17 Juli 2026 / 07:58 WIB

Mirae Asset: Peringkat BBB S&P Jadi Sentimen Positif, Namun Risiko Ekonomi Masih Membayangi

17 Juli 2026 / 05:24 WIB

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, MNC Sekuritas Rekomendasikan INCO, INDY, ISAT, dan OASA

17 Juli 2026 / 04:27 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Video: Didepan Mahasiswa UI, Menkeu Purbaya: Walaupun Ekonomi Gonjang-Ganjing, Kita Bilang Go To Hell!

Kristo Suryokusumo17 Februari 2026 / 10:58 WIB

Tiga Faktor yang Bisa Membuat Tembok Baja Spanyol Ambruk

19 Juli 2026 / 02:00 WIB

Iran Sebut AS Telah Menginjak-injak Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB

18 Juli 2026 / 19:50 WIB

Anak Hotman Luapkan Kekecewaan, Sindir Ayahnya Jadi Pengacara Febrie

18 Juli 2026 / 19:37 WIB

Tutur PoV: Jangan Biarkan Penegakan Hukum Berubah Menjadi “Jeruk Makan Jeruk”

18 Juli 2026 / 19:30 WIB

Bocoran Mobil Baru yang Bakal Meluncur di GIIAS 2026, Siapa Bakal Jadi Primadona?

18 Juli 2026 / 19:25 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.