Yogyakarta (tutur.co.id) — Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun 2026 di Grha Sabha Pramana, Rabu (20/5/2026). Sebanyak 1.762 lulusan mengikuti prosesi wisuda yang terdiri atas 1.644 lulusan program sarjana dan 118 lulusan sarjana terapan, termasuk lima lulusan warga negara asing.
Pada periode ini, rata-rata masa studi lulusan program sarjana tercatat semakin singkat, yakni 3 tahun 11 bulan dengan IPK rata-rata 3,6. Sebanyak 72% lulusan meraih predikat pujian dan tiga wisudawan berhasil mencatatkan IPK sempurna 4,00.
Rektor UGM, Ova Emilia menegaskan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif menghadapi perubahan global dan perkembangan teknologi.
Menurutnya, dunia pendidikan tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan siap kerja, tetapi juga individu yang memiliki kemampuan berpikir kritis, berintegritas, dan mampu menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks.
“Pendidikan berperan sebagai ruang pembebasan yang menghadirkan keadilan dan kemajuan bagi masyarakat, karena kebutuhan manusia tidak selalu diukur dari kebutuhan industri semata, melainkan juga kebutuhan kehidupan itu sendiri,” ujar Ova Emilia, seperti dilansir pada laman ugm.ac.id.
Dalam kesempatan tersebut, Ova juga menyinggung wacana penghapusan sejumlah program studi yang dianggap kurang relevan. Ia menilai keberadaan program studi harus dilihat secara komprehensif, tidak semata berdasarkan kebutuhan industri, tetapi juga mempertimbangkan pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
UGM sendiri mencatat sejumlah capaian akademik global. Dari 28 bidang ilmu yang masuk dalam QS World University Rankings by Subject, terdapat tiga bidang sosial humaniora yang berhasil masuk 100 besar dunia, yakni Theology yang menempati peringkat 45 dunia, Anthropology, serta Development Studies.
“Penguatan pada bidang-bidang tersebut mencerminkan kualitas keilmuan UGM yang semakin diakui secara global dan menunjukkan bahwa pengembangan akademik dilakukan secara terarah dan berkelanjutan,” katanya.
Dalam pidato wisuda, Anies Baswedan mengingatkan para lulusan bahwa mereka memasuki dunia kerja di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan dan persaingan yang semakin ketat.
Meski demikian, Anies menilai generasi yang lahir dan tumbuh di masa sulit justru memiliki peluang menjadi generasi paling tangguh karena terbiasa menghadapi keterbatasan dan perubahan.
“Generasi yang lulus di masa sulit sering kali menjadi generasi yang paling kuat karena mereka belajar bertahan, belajar membaca keadaan, dan belajar tumbuh di tengah keterbatasan,” ujar Anies.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga integritas dan tanggung jawab sejak pekerjaan pertama, karena karier jangka panjang dibentuk dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Sementara itu, kisah inspiratif datang dari perwakilan wisudawan Fakultas Peternakan, Siham Hamda Zaula yang merupakan penyandang disabilitas autisme.
Siham mengaku perjalanan kuliahnya tidak selalu mudah karena harus menghadapi kecemasan dan tantangan sosial. Namun dukungan lingkungan kampus, dosen, keluarga, dan Unit Layanan Disabilitas UGM membantunya menyelesaikan pendidikan.
“Hari ini saya belajar bahwa menjadi disabilitas bukan berarti tidak mampu, karena setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing,” ungkapnya.
Ia berharap lingkungan pendidikan dan dunia kerja ke depan semakin inklusif serta memberikan ruang aman bagi setiap individu tanpa memandang perbedaan.

