Beijing (Tutur.co.id) – Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membahas perkembangan konflik Ukraina saat menggelar pertemuan bilateral di Beijing, Kamis (14/5). Pembahasan tersebut menjadi salah satu agenda penting di tengah upaya internasional mencari jalan penyelesaian perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.
Menurut pernyataan pemerintah China, kedua pemimpin bertukar pandangan mengenai situasi keamanan global, termasuk perkembangan perang Rusia-Ukraina dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Xi menegaskan pentingnya penyelesaian konflik melalui dialog dan negosiasi politik. Pemerintah China juga kembali menyerukan semua pihak untuk menahan diri agar ketegangan tidak semakin meluas.
“China mendukung penyelesaian krisis melalui dialog dan perundingan damai,” kata Xi dalam pertemuan tersebut.
Sementara itu, Trump menyatakan Amerika Serikat tetap mendorong upaya diplomasi untuk mengakhiri perang, meski Washington masih mempertahankan dukungan terhadap Ukraina. Ia menilai stabilitas global menjadi kepentingan bersama negara-negara besar.
“Kita perlu mencari solusi yang realistis untuk mengakhiri konflik,” ujar Trump.
Selain isu Ukraina, pertemuan Xi dan Trump juga membahas hubungan perdagangan bilateral, situasi Timur Tengah, serta keamanan kawasan Indo-Pasifik. Pertemuan tersebut dinilai sebagai upaya menjaga komunikasi antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Konflik Ukraina sendiri masih menjadi perhatian utama dunia internasional karena berdampak pada harga energi, pangan, dan stabilitas keamanan global. Sejumlah negara terus mendorong proses negosiasi, meski hingga kini belum tercapai kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.
Pertemuan di Beijing ini menjadi salah satu kontak langsung paling penting antara Xi dan Trump sejak hubungan kedua negara kembali mengalami ketegangan akibat isu perdagangan dan keamanan regional. Meski masih memiliki sejumlah perbedaan pandangan, kedua pemimpin sepakat menjaga jalur komunikasi tetap terbuka untuk membahas isu-isu internasional strategis.

