Teheran (tutur.co.id) – Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, mengatakan pada hari Sabtu 18 April 2026, bahwa belum ada tanggal yang ditetapkan terkait rumor bakal akan digelarnya perundingan damai jilid II antara Amerika Serikat dan Iran.
“Sampai kita menyepakati kerangka kerja, kita tidak dapat menetapkan tanggal,” kata Saeed Khatibzadeh di sela-sela forum diplomatik tahunan di provinsi Antalya selatan Turki.
Seperti diketahui sebelumnya, perundingan pertama antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan memang gagal mencapai titik temu. Dan kini, wacana untuk menggelar pertemuan jilid II memang santer digembor-gemborkan Washington.
Khatibzadeh sendiri mengatakan kedua belah pihak saat ini fokus pada penyelesaian kerangka kerja pemahaman sebelum melanjutkan negosiasi lebih lanjut. Menurutnya, Iran sudah ‘malas’ dengan wacana perundingan yang sejatinya hanya basa-basi.
“Kami tidak ingin memasuki negosiasi atau pertemuan apa pun yang ditakdirkan untuk gagal dan dapat berfungsi sebagai dalih untuk putaran eskalasi lainnya. Saya dapat meyakinkan Anda bahwa Iran sangat berkomitmen pada diplomasi,” tegas Khatibzadeh.
Pakistan sendiri tampaknya belum kapok untuk berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Kepala Militer Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, bahkan secara terpisah berbagai tugas untuk membujuk Iran.
Munir bertemu dengan pimpinan tertinggi Iran dan para negosiator perdamaian selama kunjungan tiga hari ke Teheran. Sedangkan Shehbaz Sharif terbang ke Turki untuk juga membujuk sang Presiden Recep Tayyip Erdogan ikut terlibat aktif dalam proses perdamaian.
Iran Tak Takut Ancaman AS
Iran menolak ancaman AS tentang aksi militer baru yang juga disisipkan Donald Trump saat menyampaikan adanya kemajuan terkait perdamaian dengan Teheran. Bagi Iran, pernyataan Trump plin-plan dan tidak konsisten.
“Pihak Amerika banyak sekali berkicau di Twitter, banyak bicara. Terkadang membingungkan, terkadang kontradiktif,” kata Khatibzadeh.
Khatibzadeh mengatakan posisi Iran jelas dan berjanji akan melawan tekanan dari Washington, dalam bentuk apapun.
“Apa yang akan kita lakukan cukup jelas. Kita akan membela (negara kita) dengan heroik dan patriotic, sebagai peradaban tertua di bumi,” katanya.
Wakil menteri itu juga menolak tuduhan AS bahwa Iran mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur penting untuk pengiriman minyak global, setelah militer Iran kembali menyatakan jalur air tersebut tertutup.
“Amerika tidak dapat memaksakan kehendak mereka untuk mengepung Iran sementara Iran, dengan niat baik, berusaha memfasilitasi jalur aman melalui Selat Hormuz,” kata Khatibzadeh.
Ia mengatakan Iran telah mengumumkan jalur aman bagi kapal-kapal komersial selama gencatan senjata Israel-Lebanon, dengan syarat adanya koordinasi terlebih dahulu dengan otoritas maritim Iran. Namun, Khatibzadeh menuduh Washington berupaya “mensabotase” upaya tersebut.

