Jakarta (tutur.co.id) – Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini dinilai tidak hanya dipengaruhi tekanan global, tetapi juga faktor psikologis pasar yang menilai arah kebijakan domestik belum sepenuhnya terbaca. Ekonom senior dan founder CORE Indonesia, Hendri Saparini dalam program Tutur Update menyebut kondisi tersebut turut dipicu oleh persepsi pelaku pasar terhadap konsistensi pengelolaan ekonomi nasional.
Menurut Hendri, Presiden Prabowo Subianto masih memiliki ruang untuk melakukan evaluasi mendasar terhadap tata kelola tim ekonominya. Ia menekankan bahwa stabilisasi rupiah membutuhkan kebijakan yang konsisten, bertahap, serta kepastian hukum agar mampu memulihkan kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.
