Jakarta (tutur.co.id) — Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) menegaskan bahwa ledakan permintaan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) masih akan berlanjut. Pernyataan optimistis ini disampaikan seiring kinerja keuangan TSMC yang mencetak rekor sepanjang tahun 2025, memperkuat sentimen positif bagi investor sektor teknologi dan manufaktur chip global.
Keyakinan perusahaan terhadap pertumbuhan AI didasarkan pada pola adopsi teknologi yang sudah terlihat sejak beberapa tahun lalu.
“Biasanya keterlibatan pelanggan dimulai dua hingga tiga tahun sebelum produksi. Ini mengindikasikan bahwa permintaan infrastruktur AI akan terus berlanjut,” ujar Chairman sekaligus CEO TSMC, C.C. Wei dalam paparan kinerja, Senin (19/1/2026).
Wei menambahkan, adopsi AI kini tidak hanya terjadi di sektor konsumen, tetapi juga meluas ke perusahaan danAI yang dikembangkan oleh negara. Kondisi ini mendorong kebutuhan komputasi berskala besar dan menopang permintaan kuat terhadap silikon canggih produksi TSMC.
Untuk memastikan lonjakan permintaan tersebut berlandaskan fundamental bisnis yang sehat, manajemen TSMC bahkan melakukan peninjauan langsung terhadap kondisi keuangan para pelanggannya, khususnya penyedia layanan komputasi awan (cloud service providers).
“Pelanggan kami secara aktif meminta kapasitas tambahan. Setelah kami cek, kondisi keuangan mereka sangat solid, bahkan jauh lebih kuat dibandingkan TSMC,” tutur Wei.
Dari sisi kinerja, TSMC mencatat pendapatan kuartal IV/2025 sebesar US$33,73 miliar atau sekitar Rp570 triliun. Angka ini tumbuh 20,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dan menjadi pendapatan kuartalan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Laba bersih kuartalan juga mencetak rekor baru, mencapai sekitar Rp270 triliun. Secara tahunan, pendapatan TSMC sepanjang 2025 menembus Rp2.068 triliun dengan laba bersih mencapai Rp931 triliun.
Segmen High Performance Computing (HPC) dan prosesor AI menjadi motor utama pertumbuhan. Kedua segmen tersebut menyumbang 58 persen dari total pendapatan 2025 atau sekitar Rp1.199 triliun, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 48 persen. Capaian ini menegaskan AI sebagai penggerak utama industri semikonduktor global.
Dari sisi teknologi, node proses canggih mendominasi struktur pendapatan wafer TSMC hingga 74 persen. Teknologi 5 nanometer masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi 36 persen, disusul 3 nanometer sebesar 24 persen dan 7 nanometer sebesar 14 persen.
Manajemen TSMC optimistis momentum pertumbuhan akan berlanjut pada tahun fiskal 2026. Untuk kuartal pertama 2026, perusahaan menargetkan pendapatan di kisaran Rp574 triliun hingga Rp605 triliun, mencerminkan prospek bisnis yang tetap solid.
Sejalan dengan permintaan AI yang terus menguat, TSMC juga menyiapkan belanja modal agresif. Chief Financial Officer TSMC, Jen-Chau Huang, mengungkapkan bahwa perusahaan akan meningkatkan investasi secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
“Kami mengalokasikan belanja modal sebesar US$52 miliar hingga US$56 miliar khusus untuk tahun 2026,” ujar Huang.
Langkah ekspansi ini dinilai sebagai sinyal kuat bagi investor bahwa TSMC siap mengamankan posisi strategisnya di rantai pasok global semikonduktor. Dengan AI sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi digital, kinerja dan strategi TSMC memperkuat optimisme terhadap prospek investasi jangka panjang di sektor teknologi dan manufaktur chip.

