Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Layanan Shared Services Pertamina Raih Tiga Penghargaan Global di SSOW Impact Awards AustralAsia 2026
  • OPINI: Takdir di Balik Lionel Messi, Memandikan Bayi Lamine Yamal 19 Tahun Lalu, Kini Keduanya Berhadapan di Final Piala Dunia 2026
  • Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak
  • Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya
  • Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?
  • Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Perempuan»Scroll Berita Perang Tiap Hari? Waspada, Empathy Fatigue Mengintai Anda

Scroll Berita Perang Tiap Hari? Waspada, Empathy Fatigue Mengintai Anda

Perempuan Tia Syifa Ademira01 April 2026 / 09:24 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Pemakaman massal serangan ke sekolah perempuan di Iran (Foto:Tutur/IranWire)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Konflik di Timur Tengah kini bukan lagi sekadar berita luar negeri. Sejak pecah pada akhir Februari 2026, perang yang melibatkan Amerika Serikat-Israel, melawan Iran telah berlangsung lebih dari satu bulan—dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Bahkan, eskalasi militer justru semakin meluas lintas kawasan.

Data kemanusiaan terbaru menunjukkan skala tragedi yang mengkhawatirkan. Di Iran saja, korban tewas sudah mencapai lebih dari 1.900 orang dengan puluhan ribu luka-luka. Secara keseluruhan, estimasi awal menyebut sedikitnya 3.000 hingga lebih dari 3.400 orang tewas di berbagai wilayah konflik, termasuk Lebanon dan negara lain yang ikut terseret. Angka ini masih bisa terus bertambah seiring intensitas serangan yang belum mereda.

Di tengah angka-angka itu, ada satu hal yang luput dari perhatian: dampak psikologis global. Termasuk bagi masyarakat Indonesia yang setiap hari “terpapar” perang lewat layar ponsel. Timeline media sosial kini dipenuhi video serangan, reruntuhan bangunan, hingga korban sipil—sebuah realitas brutal yang dikonsumsi berulang-ulang tanpa jeda.

Paparan ini bukan tanpa konsekuensi. Fenomena vicarious trauma atau trauma tidak langsung mulai mengintai. Menurut British Medical Association, kondisi ini muncul ketika seseorang terlalu sering menyaksikan penderitaan orang lain hingga ikut merasakan dampak emosionalnya. Gejalanya bisa berupa kecemasan berlebih, mudah marah, sedih mendalam, hingga rasa bersalah karena hanya menjadi saksi.

Lebih jauh, kondisi ini dapat berkembang menjadi empathy fatigue—kelelahan emosional akibat empati yang terus-menerus terkuras. Alih-alih semakin peduli, seseorang justru menjadi mati rasa. Ini adalah fase berbahaya: ketika tragedi kemanusiaan tidak lagi menggugah, melainkan hanya menjadi “noise” dalam arus informasi.

Padahal, empati masyarakat Indonesia terhadap isu global adalah kekuatan sosial yang besar. Namun tanpa batas yang sehat, empati justru berubah menjadi beban psikologis. Otak dipaksa terus memproses konten negatif, seolah berada dalam kondisi darurat tanpa henti.

Baca Juga  Tradisi Idulfitri di Berbagai Negara: Dari Mudik di Indonesia hingga Festival Bayram di Turki

Karena itu, menjaga kesehatan mental di tengah banjir informasi menjadi krusial. Salah satu langkah penting adalah membatasi doomscrolling—kebiasaan menggulir berita buruk tanpa kontrol. Menentukan waktu khusus untuk mengakses berita, menghindari konten visual ekstrem, hingga memberi jeda emosional melalui relaksasi dapat membantu menjaga stabilitas mental.

Perang mungkin terjadi ribuan kilometer dari Indonesia. Namun di era digital, dampaknya melampaui batas geografis. Ia masuk ke ruang paling privat: pikiran dan emosi kita. Di tengah konflik yang belum menunjukkan akhir dan korban yang terus bertambah, menjaga kesehatan mental bukan berarti apatis—melainkan cara agar empati tetap hidup tanpa menghancurkan diri sendiri.

empathy fatique headline Perang Iran psikologi trauma psikologi tutur
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleRupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.070, Tekanan Geopolitik dan Harga Energi Membayangi
Next Article Italia Kembali Gagal ke Piala Dunia, Kalah Penalti dari Bosnia-Herzegovina

Berita Lainnya

OPINI: Takdir di Balik Lionel Messi, Memandikan Bayi Lamine Yamal 19 Tahun Lalu, Kini Keduanya Berhadapan di Final Piala Dunia 2026

18 Juli 2026 / 18:19 WIB

Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya

18 Juli 2026 / 16:04 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran

18 Juli 2026 / 14:58 WIB

Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet

18 Juli 2026 / 14:19 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 74 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Besok, BEI dan MSCI Bahas Reformasi Pasar Modal, Target Rampung April 2026

Gusti Tetiro10 Februari 2026 / 07:01 WIB

Layanan Shared Services Pertamina Raih Tiga Penghargaan Global di SSOW Impact Awards AustralAsia 2026

18 Juli 2026 / 18:36 WIB

OPINI: Takdir di Balik Lionel Messi, Memandikan Bayi Lamine Yamal 19 Tahun Lalu, Kini Keduanya Berhadapan di Final Piala Dunia 2026

18 Juli 2026 / 18:19 WIB

Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak

18 Juli 2026 / 16:19 WIB

Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya

18 Juli 2026 / 16:04 WIB

Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?

18 Juli 2026 / 16:00 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.