Jakarta (tutur.co.id) – Konflik di Timur Tengah kini bukan lagi sekadar berita luar negeri. Sejak pecah pada akhir Februari 2026, perang yang melibatkan Amerika Serikat-Israel, melawan Iran telah berlangsung lebih dari satu bulan—dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Bahkan, eskalasi militer justru semakin meluas lintas kawasan.
Data kemanusiaan terbaru menunjukkan skala tragedi yang mengkhawatirkan. Di Iran saja, korban tewas sudah mencapai lebih dari 1.900 orang dengan puluhan ribu luka-luka. Secara keseluruhan, estimasi awal menyebut sedikitnya 3.000 hingga lebih dari 3.400 orang tewas di berbagai wilayah konflik, termasuk Lebanon dan negara lain yang ikut terseret. Angka ini masih bisa terus bertambah seiring intensitas serangan yang belum mereda.
Di tengah angka-angka itu, ada satu hal yang luput dari perhatian: dampak psikologis global. Termasuk bagi masyarakat Indonesia yang setiap hari “terpapar” perang lewat layar ponsel. Timeline media sosial kini dipenuhi video serangan, reruntuhan bangunan, hingga korban sipil—sebuah realitas brutal yang dikonsumsi berulang-ulang tanpa jeda.
Paparan ini bukan tanpa konsekuensi. Fenomena vicarious trauma atau trauma tidak langsung mulai mengintai. Menurut British Medical Association, kondisi ini muncul ketika seseorang terlalu sering menyaksikan penderitaan orang lain hingga ikut merasakan dampak emosionalnya. Gejalanya bisa berupa kecemasan berlebih, mudah marah, sedih mendalam, hingga rasa bersalah karena hanya menjadi saksi.
Lebih jauh, kondisi ini dapat berkembang menjadi empathy fatigue—kelelahan emosional akibat empati yang terus-menerus terkuras. Alih-alih semakin peduli, seseorang justru menjadi mati rasa. Ini adalah fase berbahaya: ketika tragedi kemanusiaan tidak lagi menggugah, melainkan hanya menjadi “noise” dalam arus informasi.
Padahal, empati masyarakat Indonesia terhadap isu global adalah kekuatan sosial yang besar. Namun tanpa batas yang sehat, empati justru berubah menjadi beban psikologis. Otak dipaksa terus memproses konten negatif, seolah berada dalam kondisi darurat tanpa henti.
Karena itu, menjaga kesehatan mental di tengah banjir informasi menjadi krusial. Salah satu langkah penting adalah membatasi doomscrolling—kebiasaan menggulir berita buruk tanpa kontrol. Menentukan waktu khusus untuk mengakses berita, menghindari konten visual ekstrem, hingga memberi jeda emosional melalui relaksasi dapat membantu menjaga stabilitas mental.
Perang mungkin terjadi ribuan kilometer dari Indonesia. Namun di era digital, dampaknya melampaui batas geografis. Ia masuk ke ruang paling privat: pikiran dan emosi kita. Di tengah konflik yang belum menunjukkan akhir dan korban yang terus bertambah, menjaga kesehatan mental bukan berarti apatis—melainkan cara agar empati tetap hidup tanpa menghancurkan diri sendiri.

