Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan hingga Rabu (1/4/2026), seiring meningkatnya tekanan global akibat lonjakan harga energi dan eskalasi konflik geopolitik.
Pada penutupan perdagangan Selasa (31/3/2026), rupiah tercatat melemah 39 poin ke level Rp17.041 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.002. Pergerakan ini terjadi setelah rupiah sempat menguat tipis pada awal sesi perdagangan.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah dalam jangka pendek.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.040–Rp17.070,” ujarnya dalam keterangan, Selasa (31/3/2026).
Menurut Ibrahim, tekanan utama terhadap rupiah berasal dari lonjakan harga energi global akibat penutupan jalur strategis Selat Hormuz di tengah konflik yang melibatkan Iran. Jalur ini diketahui menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta pengiriman gas alam cair.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak tajam sepanjang Maret. Harga Brent tercatat naik hingga 59% secara bulanan—kenaikan tertinggi sepanjang sejarah—sementara minyak jenis WTI meningkat 58%, tertinggi sejak Mei 2020.
Selain itu, ketegangan geopolitik juga meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan terhadap Israel. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap gangguan di Selat Bab el-Mandeb, jalur penting perdagangan global yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Meski demikian, terdapat sedikit sentimen positif dari pernyataan pemerintah Gedung Putih yang menyebutkan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan menunjukkan perkembangan.
Dari sisi domestik, prospek ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup solid. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 diperkirakan berada di kisaran 5,1%–5,2%, didukung oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.
Namun, tekanan tetap muncul dari sisi investasi dan kinerja ekspor yang melemah akibat kondisi global. Perlambatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) serta net ekspor mencerminkan dampak lanjutan dari gejolak pasar energi dan keuangan global.
Dengan kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih rentan terhadap tekanan. Pelaku pasar pun disarankan untuk mencermati perkembangan konflik geopolitik dan arah kebijakan global yang berpotensi memengaruhi stabilitas nilai tukar.

