Jakarta (tutur.co.id) — Federal Reserve kembali menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% pada Rabu (29/4/2026). Namun, di balik keputusan yang sesuai ekspektasi pasar, terselip sinyal yang lebih mengkhawatirkan: retaknya konsensus internal bank sentral Amerika Serikat.
Seperti dilansir CNBC International, Keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) diambil dengan voting 8–4—tingkat perbedaan pendapat tertinggi sejak 1992. Angka ini mencerminkan meningkatnya fragmentasi pandangan di tubuh The Fed, di tengah tekanan inflasi yang belum mereda dan ketidakpastian arah kebijakan ke depan.
Gubernur Stephen Miran kembali menjadi pihak yang mendorong pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Sementara itu, tiga pejabat regional—Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan—meski sepakat menahan suku bunga, menolak sinyal pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat.
Perbedaan ini tidak hanya soal angka, tetapi juga arah komunikasi kebijakan. Sejumlah pejabat menilai bahasa dalam pernyataan resmi terlalu membuka ruang penurunan suku bunga, padahal inflasi masih bertahan di atas 3% sejak akhir 2023.
Dalam pernyataannya, The Fed menegaskan bahwa tekanan harga masih tinggi, sebagian dipicu oleh lonjakan harga energi global. Kondisi ini membuat bank sentral berada dalam dilema antara menjaga stabilitas harga dan menopang pertumbuhan ekonomi.
Pasar kini mulai menyesuaikan ekspektasi. Jika sebelumnya masih ada ruang pemangkasan suku bunga tahun ini, kini pelaku pasar justru melihat skenario “higher for longer”—di mana suku bunga bertahan lebih lama, bahkan hingga 2027.
Di sisi lain, ekonomi AS masih menunjukkan daya tahan. Data tenaga kerja mencatat penambahan 178.000 pekerjaan pada Maret, dengan tingkat pengangguran turun ke 4,3%. Namun, kombinasi inflasi tinggi dan tekanan geopolitik membuat arah kebijakan moneter semakin kompleks.
Powell di Tengah Transisi Kekuasaan
Gubernur The Fed, Jerome Powell, kini berada di persimpangan. Di tengah masa jabatannya yang akan berakhir pada 2028, muncul dinamika baru terkait suksesi kepemimpinan.
Senat AS tengah memproses nominasi Kevin Warsh sebagai calon ketua berikutnya. Jika disahkan, ini akan menjadi pergantian pertama sejak Powell menjabat pada 2018.
Berbeda dari tradisi sebelumnya, Powell memberi sinyal tidak akan langsung mundur dari Dewan Gubernur setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir. Ia memilih bertahan hingga investigasi renovasi gedung The Fed selesai—langkah yang berpotensi memperpanjang pengaruhnya dalam penentuan arah kebijakan.
Situasi ini membuka babak baru dalam dinamika internal The Fed, di mana transisi kepemimpinan terjadi bersamaan dengan meningkatnya perbedaan pandangan kebijakan.
Secara historis, tekanan politik terhadap bank sentral bukan hal baru. Pada era Marriner Eccles, konflik dengan Presiden Harry S Truman berujung pada Treasury-Fed Accord 1951 yang memperkuat independensi The Fed.
Kini, dengan kepemilikan obligasi yang mencapai sekitar US$ 6,7 triliun dan tekanan politik yang kembali meningkat, diskursus soal independensi bank sentral kembali mengemuka.
Bagi pasar global, retaknya konsensus di tubuh The Fed menjadi sinyal penting. Bukan lagi sekadar soal suku bunga, tetapi tentang arah kebijakan moneter terbesar dunia di tengah lanskap ekonomi yang semakin tidak pasti.

