Wonogiri (tutur.co.id)- Penggeledahan kantor Badan Gizi Nasional (BGN) belakangan memunculkan beragam respons publik. Di tengah polemik yang berkembang, banyak ibu justru memandang persoalan ini dari sisi yang lebih dekat dengan keseharian mereka: bagaimana nasib program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak sekolah?
Di sejumlah daerah, termasuk wilayah Mangrih, Kecamatan Jatiroto, Wonogiri, layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) disebut telah berhenti beroperasi selama sekitar tiga minggu terakhir. Kondisi tersebut mulai dirasakan sebagian orang tua, terutama keluarga yang selama ini merasa terbantu dengan adanya program MBG.
Seorang wali murid di wilayah Mangrih mengaku penghentian layanan membuat sebagian orang tua kembali memikirkan biaya makan dan bekal anak setiap hari. Menurutnya, program MBG cukup membantu keluarga di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
“Kalau buat keluarga seperti kami, program ini sebenarnya membantu sekali. Apalagi harga kebutuhan sekarang mahal. Waktu masih berjalan, setidaknya anak sudah makan di sekolah dan itu mengurangi pengeluaran harian,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah orang tua juga menilai pelaksanaan MBG sebelumnya masih memiliki banyak kekurangan dan perlu dievaluasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan anak-anak.
Leni (40), warga Mangrih, menilai kualitas menu dan pengelolaan program perlu diperbaiki jika nantinya kembali berjalan.
“Kadang menunya kurang cocok buat anak-anak. Ada juga yang menurut kami penyajiannya masih seadanya, jadi memang perlu dievaluasi lagi pengelolaannya,” kata Leni.
Meski memiliki pandangan berbeda soal pelaksanaan program, para orang tua pada dasarnya memiliki harapan yang sama: jika nantinya kembali berjalan, program MBG dapat hadir dengan pengelolaan yang lebih baik dan benar-benar memberi manfaat bagi anak.
“Kalau memang nanti dibuka lagi, semoga kualitas makanannya lebih baik dan anak-anak juga lebih suka. Karena sebenarnya program seperti ini bisa sangat membantu orang tua,” lanjutnya.
Bagi sebagian ibu, evaluasi terhadap program dianggap penting agar kualitas makanan, distribusi, hingga pengawasan bisa lebih optimal. Namun di saat yang sama, mereka juga berharap polemik yang terjadi tidak membuat anak-anak kehilangan akses terhadap makanan bergizi di sekolah, khususnya sekolah di daerah.
Program MBG sendiri selama ini dipandang membantu keluarga, terutama di tengah naiknya harga bahan pangan dan kebutuhan rumah tangga. Kehadiran makan siang di sekolah dinilai sedikit meringankan beban orang tua sekaligus membantu memastikan anak mendapatkan asupan gizi saat belajar.
Karena itu, banyak ibu berharap evaluasi yang dilakukan nantinya tidak sekadar berhenti pada polemik, tetapi benar-benar menghasilkan perbaikan layanan yang lebih layak, lebih tepat sasaran, dan lebih bermanfaat bagi anak-anak.

