New York (Tutur.co.id) – Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mulai menuai sorotan. Bukan karena aksi para pemain di lapangan, melainkan fenomena ribuan kursi kosong yang terlihat di sejumlah stadion pada pertandingan fase grup.
Pemandangan tersebut memicu perdebatan di kalangan pencinta sepak bola, terutama karena bertolak belakang dengan klaim FIFA mengenai tingginya minat terhadap turnamen terbesar di dunia tersebut.
Sebelum turnamen dimulai, berbagai pihak telah menyoroti tingginya harga tiket, mahalnya biaya perjalanan, hingga kendala pengurusan visa bagi sebagian suporter internasional. Kini, kekhawatiran tersebut seolah menemukan pembenaran setelah sejumlah pertandingan memperlihatkan banyak kursi yang tidak terisi.
Kursi Kosong Terlihat Jelas di Sejumlah Stadion
Sorotan pertama muncul saat Korea Selatan menghadapi Republik Ceko di Stadion Akron, Guadalajara, Meksiko. Dalam tayangan televisi, ribuan kursi kosong terlihat jelas, terutama di area hospitality dan VIP yang berada di tribun bawah dekat lapangan.
Kondisi serupa juga terjadi pada laga Qatar melawan Swiss di Levi’s Stadium, Santa Clara, California. Pada pertandingan yang berakhir imbang 1-1 tersebut, banyak penonton terlihat meninggalkan tempat duduk mereka sepanjang laga berlangsung.
Cuaca panas yang menyengat di stadion terbuka disebut menjadi salah satu penyebab utama. Fenomena itu memunculkan pertanyaan besar: seberapa penuh sebenarnya stadion-stadion Piala Dunia 2026?
Data FIFA Berbeda dengan Pemandangan di Lapangan
Menariknya, data resmi FIFA menunjukkan angka yang jauh berbeda dari kesan visual yang terlihat di stadion maupun layar televisi.
Berdasarkan laporan resmi FIFA, total tiket yang tidak terjual dalam enam pertandingan pembuka hanya berjumlah 1.574 kursi.
Pada laga Korea Selatan versus Republik Ceko, FIFA mencatat jumlah penonton mencapai 44.985 orang dari kapasitas Stadion Akron sebanyak 45.664 kursi. Artinya, secara resmi hanya terdapat 679 kursi yang kosong.
Namun, sejumlah jurnalis yang hadir langsung di stadion melaporkan jumlah kursi yang tidak terisi tampak jauh lebih banyak dibandingkan angka resmi tersebut. Perbedaan antara data dan kondisi visual ini kemudian memicu diskusi luas di media sosial maupun media internasional.
Harga Tiket Dinilai Terlalu Mahal
Salah satu faktor yang dianggap menjadi penyebab minimnya kehadiran penonton adalah tingginya harga tiket. Untuk pertandingan Korea Selatan melawan Republik Ceko, harga tiket rata-rata mencapai 500 dolar AS atau sekitar Rp8 juta.
Angka tersebut dinilai terlalu tinggi bagi sebagian besar warga Guadalajara, yang dikenal memiliki tingkat pendapatan lebih rendah dibandingkan sejumlah kota tuan rumah lainnya.
Situasi menjadi lebih mencolok di area VIP dan hospitality. Harga tiket pada kategori tersebut bahkan dilaporkan menembus 5.000 dolar AS atau sekitar Rp81 juta per kursi.
Menurut laporan The Athletic, banyak kursi premium tersebut dibeli atau dialokasikan kepada sponsor korporasi. Namun, sebagian besar tamu undangan tidak hadir sehingga meninggalkan deretan kursi kosong yang sangat terlihat selama siaran langsung pertandingan.
Tiga Pertandingan yang Jadi Sorotan
Korea Selatan vs Republik Ceko
Pertandingan Grup F ini menjadi contoh paling mencolok terkait fenomena kursi kosong. Meski FIFA mencatat kehadiran 44.985 penonton dari total kapasitas 45.664 kursi, banyak area tribun terlihat tidak terisi, khususnya di sektor VIP dan hospitality.
Harga tiket yang tinggi disebut menjadi salah satu faktor utama rendahnya okupansi di beberapa bagian stadion.
Qatar vs Swiss
Fenomena serupa terjadi saat Qatar bermain imbang 1-1 melawan Swiss di Levi’s Stadium. Data resmi FIFA menunjukkan jumlah penonton mencapai 67.966 orang dari kapasitas stadion sebanyak 68.827 kursi.
Meski demikian, sejumlah area tribun tampak kosong, terutama pada babak kedua. Banyak penonton dilaporkan memilih mencari tempat yang lebih teduh atau menghabiskan waktu di area komersial stadion untuk menghindari panas ekstrem.
Kanada vs Bosnia dan Herzegovina
Laga yang berlangsung di BMO Field, Toronto, juga memunculkan perdebatan serupa. FIFA mencatat kehadiran 43.002 penonton dari kapasitas stadion sebanyak 43.036 kursi.
Secara statistik stadion hampir penuh, tetapi sejumlah area tribun tetap terlihat memiliki kursi kosong sepanjang pertandingan berlangsung.
FIFA Jelaskan Metode Penghitungan Penonton
Menanggapi berbagai kritik tersebut, FIFA memberikan penjelasan mengenai metode penghitungan kehadiran penonton.
Menurut badan sepak bola dunia itu, angka resmi yang diumumkan didasarkan pada jumlah tiket yang dipindai saat memasuki stadion, bukan jumlah penonton yang benar-benar duduk di kursi selama pertandingan berlangsung.
FIFA menyebut banyak pemegang tiket yang sebenarnya berada di dalam stadion, tetapi memilih menghabiskan waktu di area concourse atau lorong stadion untuk membeli makanan, berbincang, atau mencari lokasi yang lebih nyaman.
Penjelasan tersebut menjawab sebagian pertanyaan publik, tetapi belum sepenuhnya meredakan perdebatan mengenai fenomena kursi kosong yang terus menjadi sorotan pada fase awal Piala Dunia 2026.
