Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (9/3/2026). Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penurunan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.02 WIB di pasar spot exchange, rupiah melemah 85 poin atau sekitar 0,5% ke posisi Rp17.010 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat menguat 0,7% ke level 99,67.
Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (6/3/2026), rupiah juga ditutup melemah 20 poin dan berada di level Rp16.925 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang pekan ini berada di kisaran Rp16.850 hingga Rp17.100 per dolar AS. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah terutama datang dari sentimen global terkait konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut.
Ia menjelaskan, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki hari ketujuh tanpa adanya tanda-tanda mereda. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar global tetap bersikap waspada dan cenderung mencari aset yang lebih aman.
Ketegangan geopolitik ini juga memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global. Jika gangguan tersebut terjadi, harga energi—terutama minyak—berpotensi melonjak dan memicu tekanan inflasi di berbagai negara.
Ibrahim menilai kenaikan harga minyak dapat membuat bank sentral global, termasuk The Fed, lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga. “Harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu inflasi dan dapat membuat para pembuat kebijakan menunda pemangkasan suku bunga,” ujarnya.
Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Fitch memproyeksikan rasio pendapatan negara terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia hanya akan berada di kisaran rata-rata 13,3% selama periode 2026–2027. Angka tersebut dinilai masih jauh di bawah median negara dengan peringkat serupa dalam kategori ‘BBB’, yang mencapai sekitar 25,5%.
Kombinasi tekanan eksternal dan domestik ini membuat pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berfluktuasi dalam waktu dekat, seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik dan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

