Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah bergerak terbatas pada perdagangan Selasa (17/3/2026) dan ditutup stagnan di kisaran Rp16.997 per dolar AS, setelah sempat menguat sekitar 25 poin di awal sesi.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah tertahan oleh tingginya ketidakpastian global, terutama terkait potensi penutupan Selat Hormuz yang memicu gejolak harga minyak dunia.
“Rupiah juga stagnan menjelang libur Lebaran hingga 24 Maret. Namun rupiah diperkirakan masih akan berfluktuasi,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan domestik, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Tekanan juga datang dari konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. Ketiadaan kesepakatan gencatan senjata mendorong kenaikan harga minyak mentah global.
Selain itu, pelaku pasar global masih menanti keputusan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan tetap berada di kisaran 3,5%–3,75%.
“Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada arah kebijakan bank sentral AS di tengah kenaikan harga minyak yang berdampak besar pada ekonomi global,” jelas Ibrahim.
Dari dalam negeri, rupiah juga dibayangi kekhawatiran pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang berpotensi mendekati batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah saat ini tengah mengkaji ulang strategi pengelolaan anggaran untuk menjaga defisit tetap terkendali.

