Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (25/5/2026), seiring meningkatnya ketidakpastian global dan masih kuatnya permintaan valuta asing di pasar domestik.
Pada perdagangan Jumat (22/5/2026), rupiah ditutup melemah 47 poin ke level Rp 17.716 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah dibuka turun 16 poin atau 0,09% ke posisi Rp 17.683 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut pada awal pekan ini. Menurut dia, rupiah berpotensi bergerak pada rentang Rp 17.710 hingga Rp 17.760 per dolar AS.
“Untuk beberapa hari ke depan, rupiah diperkirakan masih bergerak di kisaran Rp 17.680 sampai Rp 17.800 per dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketidakpastian negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah dinilai memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Kekhawatiran penutupan Selat Hormuz akibat konflik tersebut mendorong lonjakan harga minyak dunia dan memicu risiko inflasi global yang lebih tinggi. Kondisi ini membuat pasar kembali memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka ruang kenaikan suku bunga tambahan.
“Ada kemungkinan sampai akhir tahun bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin,” kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, pasar juga masih merespons pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI yang menjadi perhatian lembaga pemeringkat internasional S&P Global. Selain itu, langkah pemerintah dan otoritas moneter melakukan stabilisasi melalui operasi pasar dinilai belum sepenuhnya mampu mendorong penguatan rupiah secara signifikan.
“Pemerintah melalui Menteri Keuangan juga sudah melakukan operasi pasar dengan menjual surat utang negara hingga Rp 4 triliun. Tetapi langkah ini belum bisa membuat rupiah mengalami penguatan,” ujar Ibrahim.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor global, tetapi juga dipengaruhi tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri, terutama untuk pembayaran dividen perusahaan pada Mei 2026.
Menurut dia, pelemahan rupiah terhadap dolar AS sepanjang tahun ini hampir mencapai 5% secara year to date (ytd). Bahkan, rupiah juga mengalami tekanan terhadap sejumlah mata uang regional seperti ringgit Malaysia, dolar Singapura, dolar Hong Kong, dan yuan China.
“Yang paling dalam kita melemah terhadap ringgit Malaysia, lalu dolar Singapura, dolar Hong Kong, dan yuan China. Jadi jangan terus menyalahkan global,” ujar Josua.
Melihat tekanan tersebut, Josua menilai Bank Indonesia perlu memperkuat implementasi kebijakan Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.
Menurut dia, semakin luas implementasi transaksi menggunakan mata uang lokal antarnegara, maka tekanan terhadap permintaan dolar AS dapat ditekan sehingga membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Kami mendorong Bank Indonesia terus memperluas kerja sama LCT dengan negara-negara mitra,” tuturnya.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama mengatakan transaksi LCT menjadi salah satu instrumen penting untuk memitigasi tekanan nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Berdasarkan data BI, nilai transaksi LCT hingga April 2026 mencapai US$ 22,61 miliar atau tumbuh 309% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 7,33 miliar. Jumlah pelaku LCT juga meningkat menjadi 5.265 pengguna per bulan sepanjang 2026.
Saat ini, BI terus memperluas implementasi LCT dengan sejumlah negara mitra, termasuk Singapura, India, dan Arab Saudi.

