Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (19/5/2026), di tengah tekanan sentimen global dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal domestik.
Berdasarkan perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 35 poin ke level Rp17.703 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.680 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat tertekan hingga melemah 70 poin.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen global, terutama terkait perkembangan konflik di Timur Tengah.
Menurut Ibrahim, pasar masih mengkhawatirkan potensi terganggunya pasokan minyak dunia akibat situasi geopolitik yang memanas di kawasan tersebut.
“Konflik di Timur Tengah secara efektif telah menutup Selat Hormuz, jalur air penting yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak global, menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).
Meski demikian, ketegangan sempat sedikit mereda setelah Presiden AS Donald Trump disebut menunda rencana serangan terhadap Iran guna membuka ruang negosiasi untuk mengakhiri konflik.
Di sisi lain, pasar juga mencermati kabar mengenai kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap ekspor minyak Iran. Namun, klaim tersebut dibantah oleh pejabat AS.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dilaporkan memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari agar negara-negara rentan krisis energi tetap dapat membeli minyak Rusia melalui jalur laut.
Dari dalam negeri, analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pasar juga masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan diumumkan pada Rabu (20/5/2026).
Menurut Rully, kekhawatiran terhadap ruang fiskal pemerintah turut menjadi faktor yang membebani pergerakan rupiah.
“Ruang fiskal terus menyempit akibat subsidi yang membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas US$100 per barel,” ujar Rully.
Pelaku pasar saat ini menantikan arah kebijakan suku bunga BI di tengah tekanan terhadap rupiah, lonjakan harga energi global, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional.

