Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan kembali melemah pada perdagangan Rabu (8/4/2026), seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Pada perdagangan Selasa (7/4/2026), rupiah ditutup melemah 70 poin ke level Rp17.105 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.035. Sepanjang hari, mata uang Garuda bahkan sempat tertekan hingga 75 poin.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif namun cenderung melemah dalam rentang Rp17.100 hingga Rp17.150 per dolar AS.
“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.100 – Rp17.150,” ujarnya dalam keterangan, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, terutama menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan Selat Hormuz.
Menurutnya, ketegangan tersebut telah mengganggu aliran energi global dan mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya meningkatkan risiko inflasi serta memperumit arah kebijakan moneter global.
“Konfrontasi ini telah mengganggu aliran energi global dan mendorong harga minyak lebih tinggi, memicu kekhawatiran inflasi,” jelas Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Jumat pekan ini. Data tersebut dinilai akan memberikan sinyal terkait arah suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memastikan telah melakukan langkah intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam volatilitas pasar.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa intervensi dilakukan baik di pasar spot maupun pasar forward non-deliverable (NDF).
Selain itu, BI juga siap membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder jika diperlukan, serta meningkatkan daya tarik instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna mendorong arus modal masuk.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

