Jakarta (tutur.co.id) — Pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi ini terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.
Pada perdagangan Kamis (11/6/2026), rupiah ditutup melemah 44 poin atau sekitar 0,22% ke level Rp17.988 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.944 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya mereda, terutama di tengah tingginya ketidakpastian global.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal dibandingkan kondisi fundamental ekonomi domestik. Menurutnya, pasar masih berada dalam mode hati-hati karena sejumlah risiko global belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
“Setelah BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%, rupiah memang sempat mendapat dukungan. Namun tekanan belum hilang karena pelaku pasar masih mencermati kuatnya dolar AS, arah suku bunga Amerika Serikat, harga minyak yang tinggi akibat ketegangan di Timur Tengah, serta kebutuhan valas domestik untuk impor, pembayaran utang, dan aktivitas korporasi,” ujar Josua.
Menurut dia, kekuatan dolar AS masih menjadi tantangan utama bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pasar hingga kini belum sepenuhnya yakin bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga secara agresif dalam waktu dekat. Akibatnya, permintaan terhadap aset dolar AS masih relatif tinggi.
Selain itu, harga minyak dunia yang bertahan di level tinggi juga meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia membutuhkan pasokan devisa yang lebih besar ketika harga energi meningkat.
“Ketika harga minyak mahal, kebutuhan valas untuk impor energi ikut naik, risiko inflasi meningkat, dan beban fiskal dari subsidi maupun kompensasi energi menjadi perhatian pasar. Kondisi ini membuat investor lebih selektif menempatkan dana di aset negara berkembang,” jelas Josua.
Dari sisi domestik, pasar juga masih menunggu kepastian mengenai keberlanjutan arus modal asing serta efektivitas langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas. Kenaikan BI Rate dan meningkatnya daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) memang berhasil memberikan bantalan jangka pendek terhadap rupiah. Namun investor belum melihat arus dana asing masuk secara merata ke seluruh instrumen keuangan domestik.
Menurut Josua, selama aliran dana asing masih terkonsentrasi pada instrumen tertentu seperti SRBI dan belum mengalir kuat ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) maupun pasar saham, maka dukungan terhadap rupiah belum dapat dikatakan solid dan berkelanjutan.
Ia juga menilai pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS memiliki dimensi psikologis yang cukup kuat. Level tersebut kerap menjadi acuan pelaku pasar dalam mengambil keputusan transaksi.
Saat rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS, perusahaan yang memiliki kebutuhan valuta asing biasanya mempercepat pembelian dolar untuk mengantisipasi pelemahan lebih lanjut. Sementara investor cenderung menunggu kepastian arah kebijakan sebelum menambah eksposur pada aset domestik.
“Akibatnya, tekanan yang awalnya kecil bisa membesar apabila tidak diimbangi pasokan valas yang memadai,” ujarnya.
Untuk perdagangan 12 Juni 2026, Josua memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS. Sementara rentang yang paling berpeluang terjadi berada di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS selama tidak ada kejutan besar dari pasar global.
Menurutnya, peluang penguatan rupiah masih terbuka apabila dolar AS mulai melemah, harga minyak dunia terkoreksi, arus modal asing kembali masuk ke pasar SBN dan SRBI, serta BI tetap aktif menjaga stabilitas pasar keuangan.
Sebaliknya, risiko pelemahan masih membayangi apabila dolar AS kembali menguat, harga minyak naik lebih tinggi, imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, atau pasar saham domestik kembali mengalami arus keluar dana asing.
Meski demikian, Josua menegaskan kondisi saat ini tidak dapat diartikan sebagai kegagalan kebijakan Bank Indonesia. Kebijakan moneter, menurutnya, bekerja melalui mekanisme peningkatan daya tarik aset rupiah dan pembentukan ekspektasi pasar yang membutuhkan waktu sebelum dampaknya terasa secara penuh.
“BI sudah berada pada jalur yang tepat untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun efektivitasnya akan lebih besar apabila didukung kebijakan fiskal yang kredibel, komunikasi pemerintah yang konsisten, serta kepastian regulasi yang mampu menjaga kepercayaan investor,” katanya.
Karena itu, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga memastikan koordinasi kebijakan ekonomi berjalan konsisten. Pasar akan mencermati kemampuan pemerintah memperkuat pasokan devisa hasil ekspor, menjaga disiplin fiskal, serta menghadirkan kepastian regulasi yang mendukung masuknya investasi. Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama apakah rupiah mampu menjauh dari level Rp18.000 per dolar AS atau justru kembali menghadapi tekanan yang lebih besar dalam beberapa waktu ke depan.

