Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Bukan Punya Febrie, Emas 47 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah
  • BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal
  • Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli
  • Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026
  • Mencari Akhir yang Manis
  • Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar
  • Berikut daftar 8 lokasi Samsat Keliling di Wilayah Jabodetabek 18 Juli 2026
  • Ini Lokasi SIM Keliling Jakarta Akhir Pekan 18 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Nasional»Rp10 Triliun Digitalisasi Pendidikan Zaman Nadiem Menguap, Didik Sebut Jokowi Ikut Bertanggung Jawab

Rp10 Triliun Digitalisasi Pendidikan Zaman Nadiem Menguap, Didik Sebut Jokowi Ikut Bertanggung Jawab

Nasional Adi P14 Mei 2026 / 15:19 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) dalam program digitalisasi pendidikan di Kemendikbudristek Nadiem Makarim (kiri) berbincang dengan kuasa hukumnya saat sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (13/5/2026). Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Nadiem Makarim hukuman penjara selama 18 tahun serta denda Rp1 miliar subsider 190 hari pidana kurungan, selain itu Nadiem juga dituntut membayar uang pengganti sebesar Rp809 miliar dan Rp4,8 triliun atau total senilai Rp5,6 triliun. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/agr
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) – Proyek digitalisasi pendidikan yang dijalankan era Menteri Pendidikan Nadiem Makarim kini berubah menjadi kontroversi politik dan hukum. Anggaran hampir Rp10 triliun yang digelontorkan negara dipersoalkan karena dinilai tidak menghasilkan transformasi pendidikan yang nyata.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J Rachbini, menyebut proyek itu sejak awal dibangun dengan pendekatan yang keliru. Menurut dia, pemerintah terlalu percaya bahwa pendidikan bisa berubah hanya dengan distribusi gadget dan internet.

“Proyek ini secara administratif dan kebijakan sudah salah kaprah sejak awal karena menganggap bahwa transformasi sistem pendidikan modern bisa disulap dengan cara tekno-sulusi (tech-solutionism),” kata Didik kepada redaksi Tutur, Kamis (14/5/2026).

Ia menilai pemerintah menyederhanakan persoalan pendidikan yang kompleks menjadi sekadar proyek teknologi. Padahal pendidikan tidak bisa diperlakukan seperti bisnis digital atau startup.

“Dengan memasukkan sepotong gadget dan internet ke sekolah, maka transformasi dapat dilakukan secara cepat dan evolusioner, seperti e-commerce, e-marketing, digital bisnis dan jenis teknologi informasi lainnya,” ujarnya.

Menurut Didik, Presiden Joko Widodo sejak awal sangat percaya pada pendekatan teknologi tersebut. Karena itu Jokowi merekrut Nadiem, pendiri Gojek, untuk memimpin transformasi pendidikan nasional.

“Jokowi dengan merekrut orang hebat seperti Nadiem Makarim berkeyakinan seperti ini karena memang sejak awal silau dengan AI, teknologi informasi, survey, dll,” kata Didik. “Karena itu, Jokowi langsung yang ‘endorse’ proyek tersebut dan menyampaikannya secara terbuka.”

Namun proyek bernilai jumbo itu, kata Didik, tidak meninggalkan hasil yang sebanding dengan anggaran yang dihabiskan. Ia bahkan membandingkannya dengan proyek e-KTP yang dahulu juga berujung skandal.

“Gagasan digitalisasi pendidikan adalah proyek besar nasional,” ujar Didik. “Karena itu biaya proyek ini sangat besar hampir 10 trilyun atau 2 kali dari proyek e-KTP, yang juga berantakan dan hasilnya nihil karena dikorupsi petinggi partai.”

Baca Juga  Kabar Gembira! Dua Kapal Pertamina Siap Lewati Selat Hormuz

Ia mempertanyakan dampak nyata proyek tersebut terhadap dunia pendidikan Indonesia.

“Pertanyaan yang sama proyek digitalisasi ini hasilnya apa?” kata Didik. “Hampir tidak ada bekasnya yang memadai dan tidak menghasilkan transformasi apa pun. Dana pajak yang besar juga menguap tanpa hasil yang nyata.”

Prof. Didik J.Rachbini, Ekonom Senior INDEF dan Rektor Universitas Paramadina. (Foto: Dok. Universitas Paramadina)
Prof. Didik J. Rachbini, Ekonom Senior INDEF dan Rektor Universitas Paramadina. (Foto: Dok. Universitas Paramadina)

Didik menilai kesalahan mendasar proyek ini terletak pada cara pandang pemerintah yang terlalu percaya pada teknologi sebagai solusi tunggal. Padahal transformasi pendidikan harus menyentuh aspek yang jauh lebih luas.

“Sejatinya, transformasi pendidikan tersebut harus melibatkan proses yang melibatkan seluruh substansi dan variabel penting, seperti kualitas guru, literasi dasar, budaya belajar dan sekolah, infrastruktur listrik maupun internet, dan lainnya,” ujarnya.

Karena itu, menurut dia, laptop dan gadget tidak bisa otomatis meningkatkan kualitas pendidikan.

“Gadget dan laptop memang merupakan instrumen modern, tetapi tidak bisa sebagai pendorong transformasi menuju modern dan tidak otomatis meningkatkan kualitas belajar,” kata Didik.

Ia juga menyoroti gaya kepemimpinan Nadiem yang dibentuk oleh kultur startup. Menurut dia, pola kerja perusahaan rintisan tidak cocok diterapkan di birokrasi negara yang ketat prosedur.

“Di startup Nadiem sangat lincah menakhodai Gojek sampai besar seperti sekarang,” ujarnya. “Tetapi di sektor publik pelaksanaan anggaran publik diatur dengan birokrasi dan prosedur yang ketat.”

Didik menilai pendekatan startup yang dibawa ke kementerian membuat tata kelola proyek menjadi kacau.

“Dengan mengambil ratusan tim dari luar dan tidak bersentuhan dengan birokrasi, maka prosedur proyek yang menggunakan anggaran rakyat menjadi berantakan seperti terjadi pada kasus tersebut,” katanya.

Meski begitu, Didik mengaku tidak percaya Nadiem mengambil keuntungan pribadi dari proyek tersebut. Namun ia menegaskan bahwa persoalannya bukan semata korupsi pribadi, melainkan pertanggungjawaban atas penggunaan anggaran publik.

Baca Juga  Ancaman Presiden Prabowo Bekukan Bea Cukai, Menkeu: Bisa Diganti SGS Swiss

“Dalam kasus sekarang saya yakin Nadiem tidak mengambil uang proyek tersebut karena sudah kaya,” kata Didik. “Tetapi hukum tidak bisa dicegah untuk masuk karena mempertanyakan apa hasil dari proyek dengan anggaran segede gajah tetapi dilaksanakan dengan tata kelola yang lemah dan sembarangan.”

Ia juga menyinggung peran Jokowi dalam proyek tersebut. Menurut dia, dukungan langsung presiden membuat proyek digitalisasi pendidikan sejak awal mendapat legitimasi politik yang kuat.

“Dalam hal ini akan adil jika Jokowi diminta datang ke pengadilan karena sudah disebut-sebut di dalam sidang,” ujar Didik. “Tetapi karena ada dimensi politik dari kasus ini, maka hukum dan pengadilan tidak juga mampu menghadirkan Jokowi.”

Bagi Didik, kasus ini menjadi ironi bagi sosok Nadiem sendiri. Pendiri Gojek itu dinilai sebagai simbol keberhasilan anak muda Indonesia di sektor teknologi. Namun pujian besar terhadap dirinya justru berubah menjadi jebakan ketika masuk ke politik.

“Kita sayang kepada Nadiem,” kata Didik. “Pujian dan penghargaan luar biasa terhadapnya justru menjadi jebakan ketika masuk ke wilayah politik yang penuh onak dan duri.”

Ia bahkan mengingatkan agar anak-anak muda sukses di dunia bisnis tidak buru-buru masuk ke politik praktis.

“Sebaiknya di masa mendatang tidak ada lagi anak muda yang berprestasi di dunianya masuk ke dalam kubangan politik abu-abu, yang penuh ranjau dan jebakan,” ujarnya.

Didik lalu mencontohkan sejumlah tokoh teknologi dunia yang tetap besar tanpa harus masuk politik.

“Mark Zuckerberg, Elon Musk, Jensen Huang dan orang hebat lainnya tidak perlu masuk politik dan tetap besar namanya di dunianya sendiri,” kata dia.

Chrome Book Didik J Racbnini headline jokowi Kasus Korupsi Chromebook Nadiem Makariem Pendidikan tutur
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleTiga Sinyal Warren Buffett Ini Disebut Bisa Jadi Peringatan Dini Market Crash
Next Article Pertama Kali! Kapolda Metro Jaya Pangkatnya Komjen Bintang Tiga

Berita Lainnya

Bukan Punya Febrie, Emas 47 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

Beberkan Kejanggalan Kasus Febrie, Hotman: Ada Sesuatu yang Dikejar

18 Juli 2026 / 10:03 WIB

Berikut daftar 8 lokasi Samsat Keliling di Wilayah Jabodetabek 18 Juli 2026

18 Juli 2026 / 09:19 WIB

Ini Lokasi SIM Keliling Jakarta Akhir Pekan 18 Juli 2026

18 Juli 2026 / 08:57 WIB

Febrie Tak Ditahan Usai Diperiksa, Hotman: 18 Pertanyaan Terjawab

17 Juli 2026 / 22:42 WIB

Alasan Polri Tetapkan Febrie Tersangka Meski Belum Diperiksa

17 Juli 2026 / 21:26 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Revitalisasi 897 Sekolah di Sumut Ditargetkan Rampung Akhir Januari 2026

Deba Salamah05 Januari 2026 / 02:52 WIB

Bukan Punya Febrie, Emas 47 Kg dan Uang Rp476 M Milik Yayasan Dakwah

18 Juli 2026 / 13:07 WIB

BPH Migas: Antrean BBM di SPBU Medan Berangsur Normal

18 Juli 2026 / 12:45 WIB

Laporan Gratifikasi Ditolak, KPK Akan Panggil Menhut Raja Juli

18 Juli 2026 / 11:50 WIB

Telkom Perkuat Kolaborasi AI Nasional Lewat AIcosystem di InnoVibes 2026

18 Juli 2026 / 11:20 WIB

Mencari Akhir yang Manis

18 Juli 2026 / 11:00 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.