Miami (Tutur.co.id) – Pertandingan Inggris vs Norwegia pada babak perempat final Piala Dunia 2026 di Hard Rock Stadium, Miami, Minggu (12/7/2026) pukul 04.00 WIB, bukan sekadar mempertemukan dua tim yang sedang memburu tiket semifinal. Di balik duel antara Harry Kane, Jude Bellingham, Erling Haaland, dan Martin Odegaard, tersimpan rivalitas panjang yang telah berlangsung selama 45 tahun dan melahirkan salah satu komentar paling legendaris dalam sejarah sepak bola.
Kemenangan Bersejarah Norwegia yang Abadi dalam Sejarah
Rivalitas ini bermula pada 9 September 1981, ketika Norwegia secara mengejutkan menumbangkan Inggris dengan skor 2-1 dalam laga kualifikasi Piala Dunia di Stadion Ullevaal, Oslo.
Saat itu Inggris datang sebagai unggulan mutlak. Tim asuhan Ron Greenwood diperkuat sejumlah bintang besar seperti Bryan Robson, Glenn Hoddle, Kevin Keegan, hingga Trevor Francis.
Sebaliknya, Norwegia hanyalah tim yang belum meraih satu poin pun dari dua pertandingan awal fase kualifikasi. Mayoritas pemain mereka bahkan masih berstatus semi-profesional sehingga hampir tidak ada yang memprediksi mampu memberikan perlawanan berarti. Namun, kejutan besar justru terjadi.
Setelah Roger Albertsen menyamakan kedudukan, Hallvar Thoresen mencetak gol kemenangan sebelum babak pertama usai. Hasil tersebut menjadi kemenangan pertama Norwegia atas Inggris sepanjang sejarah dan langsung mengguncang dunia sepak bola Eropa.
Komentar Legendaris yang Tak Pernah Dilupakan
Kemenangan itu semakin dikenang berkat komentar emosional penyiar radio Norwegia, Bjorge Lillelien, yang hingga kini dianggap sebagai salah satu komentar olahraga terbaik sepanjang masa.
Dalam siaran langsung untuk NRK, Lillelien melontarkan kalimat yang kemudian menjadi legenda.
“Lord Nelson. Lord Beaverbrook. Sir Winston Churchill. Sir Anthony Eden. Clement Attlee. Henry Cooper. Lady Diana. Kami telah mengalahkan mereka semua!”
Ia kemudian melanjutkan dengan kalimat yang paling dikenang hingga sekarang.
“Maggie Thatcher, apakah Anda mendengar saya? Maggie Thatcher, anak-anak Anda baru saja dipukul habis-habisan!”
Lillelien bahkan sempat menyindir wasit asal Polandia, Jerzy Kacprzak, yang menurutnya memberikan tambahan waktu terlalu lama hingga “hampir layak mendapatkan kewarganegaraan Inggris.”
Komentar tersebut kemudian dinobatkan sebagai komentar olahraga terbaik sepanjang masa versi The Observer Sport Monthly pada 2002.
Meski ada satu fakta yang sering dilupakan—Inggris tetap lolos ke Piala Dunia 1982, sementara Norwegia gagal—pidato emosional Lillelien tetap hidup hingga sekarang.
Bahkan setelah Lillelien meninggal dunia pada 2008 dalam usia 60 tahun, rekaman komentarnya selalu kembali diputar setiap kali Inggris bertemu Norwegia.
Kini Norwegia Datang sebagai Ancaman Nyata
Empat puluh lima tahun setelah malam bersejarah di Oslo, situasinya berubah drastis.
Jika dahulu Norwegia hanyalah tim kuda hitam, kini mereka datang sebagai salah satu kejutan terbesar Piala Dunia 2026 setelah secara sensasional menyingkirkan Brasil pada babak 16 besar.
Kepercayaan diri skuad asuhan Stale Solbakken sedang berada di puncaknya dan mereka yakin mampu kembali menciptakan sejarah saat menghadapi Inggris.
Empat puluh lima tahun setelah malam bersejarah di Oslo, Norwegia kini memiliki kesempatan untuk kembali menorehkan kisah besar. Namun, Inggris tentu datang dengan tekad membalas luka lama sekaligus menjaga mimpi mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah.

