Baku (Tutur.co.id) – Rencana militer Amerika Serikat menyelamatkan awak pesawat F-15 yang ditembak jatuh sistem pertahanan udara Iran berakhir berantakan. Bahkan tercatat 10 pesawat yang terlibat dalam proses evakuasi itu rontok dihajar Iran.
Dilansir Military Watch Magazine, Senin 6 April 2026, tercatat dua helicopter UH-60, dua drone MQ-8, sebuah pesawat pendukung A-10 dan drone Hermes 900 milik Israel telah menjadi sasaran empuk pertahanan udara Iran.
Dan menurut laporan terbaru, selain enam pesawat udara itu, proses evakuasi awak pilot F-15 ini juga menumbalkan dua pesawat HC-130J Combat King II dan dua helicopter MH-6 yang hancur berantakan menyisakan puing-puing.
Proses evakuasi yang benar-benar mahal atau lebih tepatnya menjadi kuburan massal bagi bangkai-bangkai pesawat udara AS dan Israel.
Mencoba mundur ke belakang, pada 28 Februari bulan lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer gabungan terhadap Iran dengan menyerang kota-kota besar, termasuk Teheran.
Gedung Putih menyebut ancaman rudal dan nuklir Iran sebagai pembenar dalam serangan itu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama beberapa pejabat senior lainnya.
Sebagai tanggapan, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan operasi pembalasan skala besar terhadap Israel dan dengan menargetkan pangkalan militer AS yang berada di Bahrain, Yordania, Irak, Qatar, Kuwait, UEA, Oman, Arab Saudi, dan Surih dengan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone.
Konflik tersebut telah menempatkan infrastruktur energi dan pelayaran maritim di kawasan itu dalam ancaman serius. Karena ketegangan keamanan di Selat Hormuz, harga minyak global telah meningkat secara signifikan. Iran sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz.

