Aceh Tamiang (tutur.co.id) – Lumpur sisa banjir bandang masih terlihat di permukiman, jalan, hingga fasilitas umum di Aceh Tamiang. Perlahan, masyarakat mulai bangkit untuk menata kehidupan mereka kembali. Di tengah pemulihan tersebut, pemerintah hadir dengan menghidupkan kembali penghidupan warga.
Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat penanganan pascabencana dengan pendekatan yang tak hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi juga menghidupkan kembali penghidupan warga terdampak. Melalui program Padat Karya, warga dilibatkan langsung. Setiap hari, mereka bekerja di sejumlah titik dengan upah Rp 140.000 per hari. Penghasilan yang cukup berarti di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Sementara itu di Kota Kuala Simpang, warga gotong-royong menyapu badan jalan yang masih tertutup bekas lumpur. Sebagian warga lainnya menyemprotkan air agar sisa tanah mudah dibersihkan. Sampah dan material sisa banjir kemudian diangkut menggunakan truk menuju tempat pembuangan akhir.
Kementerian PU mengoptimalkan skema padat karya, terutama di lokasi yang sulit dijangkau alat berat. Dengan dukungan peralatan berukuran kecil, proses pembersihan tetap berjalan efektif dan menyentuh seluruh area terdampak, mulai dari jalan kota, permukiman, hingga fasilitas umum.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan penanganan pascabencana tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata. Menurutnya, pemulihan harus mampu menggerakkan kembali roda perekonomian masyarakat. Infrastruktur yang pulih, kata dia, harus sejalan dengan kehidupan warga yang kembali berjalan.
Selain jalan kota, program Padat Karya juga difokuskan pada pemulihan fasilitas pendidikan, salah satunya di SMP Negeri 2 Karang Baru. Dengan mengenakan helm proyek, sepatu boots, dan rompi kerja, warga tampak bekerja tanpa mengenal lelah di bawah terik matahari.
Beberapa ruang kelas dan halaman sekolah masih menyisakan lumpur yang harus dibersihkan agar kegiatan belajar mengajar bisa segera dimulai kembali. Bagi warga, program ini bukan sekadar pekerjaan sementara. Upah yang mereka terima bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Melalui program Padat Karya, pemerintah berupaya memastikan pemulihan di Aceh Tamiang berjalan lebih menyeluruh. Jalanan dibersihkan, sekolah dipulihkan, dan di saat yang sama warga mendapatkan penghasilan untuk menyambung hidup. Di tengah sisa-sisa bencana, program ini menjadi langkah nyata membangun kembali Aceh Tamiang dari bawah bersama warganya.

