Jakarta (Tutur.co.id) – Tak beberapa lama setelah pecahnya aksi saling balas serangan antara Israel dibantu Amerika Serikat kontra Iran, Presiden Prabowo Subianto langsung bersikap. Prabowo mengaku siap menjadi mediator dalam konflik di Timur Tengah itu. Namun rencana Prabowo itu dianggap akan sia-sia.
Hal itu diungkapkan pakar Timur Tengah Faisal Assegaf. Menurutnya, usaha Presiden Prabowo itu akan sia-sia mengingat begitu banyaknya pelanggaran yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat. Belum ditambah fakta serangan ini telah menewaskan orang nomor satu di Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Bahkan Assegaf menilai, begitu banyaknya pelanggaran yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat dapat menjadi alasan bagi Prabowo untuk keluar dari Dewan Perdamaian bentukan Donald Trump.
“Sebenarnya apa yang dilakukan Amerika dengan Israel sejak kemarin melancarkan serangan terhadap Iran sebagai negara merdeka dan berdaulat, itu menjadi alasan kuat bagi Presiden Prabowo untuk keluar dari Dewan Perdamaian (Board of Peace),” kata Assegaf kepada Tutur.
Assegaf menambahkan, fakta bahwa pendirinya, perumusnya (AS) yang mimpin Lembaga itu bersama sekutunya yang menjadi anggota ternyata orang yang sering melakukan pelanggaran dan baru saja melakukan pelanggaran hukum internasional dengan menyerang negara lain tentu layak jadi alasan Indonesia menarik diri.
“Saya kira itu sebenarnya yang harus dilakukan oleh Presiden Prabowo, bukan pergi ke Iran untuk menjadi mediator, karena itu tidak akan berpengaruh. Apalagi setelah kematian pemimpin tertinggi Ali Khamenei ini, itu sudah berbeda sikapnya,” kata Assegaf.
Keyakinan Assegaf ini sejatinya juga telah terkonfirmasi dengan aksi Iran menyusul serangan Israel dan AS beberapa waktu lalu. Iran lewat Operasi Janji Sejati 4 langsung membalas dan menyatakan akan terus melancarkan serangan balasan dalam beberapa hari kedepan.
“Iran harus mengembalikan semangat rakyat Iran, semangat pasukan Iran, yaitu dengan memberikan serangan balasan yang dampaknya, efeknya, akibatnya luar biasa buat Amerika dengan Israel,” kata Assegaf.

