Jakarta (tutur.co.id) — Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran menteri ekonomi Kabinet Merah Putih untuk memaparkan secara rinci kondisi perekonomian nasional dalam forum bertajuk Indonesia Economic Outlook. Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 13 Februari 2026, pukul 14.00 WIB di Wisma Danantara, Jakarta.
Forum ini digelar di tengah meningkatnya sorotan lembaga internasional terhadap prospek ekonomi dan tata kelola Indonesia. MSCI (Morgan Stanley Capital International) sebelumnya merilis laporan bernada negatif serta menyoroti isu integritas dan tata kelola pasar modal Indonesia. Tak lama kemudian, Moody’s Investors Service memangkas outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Presiden meminta penjelasan komprehensif disampaikan kepada publik dan pelaku pasar.
“Bapak Presiden tadi meminta agar kami membuat penjelasan yang lebih lengkap dalam bentuk sarasehan ekonomi, yaitu ‘Indonesia Economic Outlook’ yang akan diselenggarakan pada hari Jumat nanti,” ujar Airlangga seusai rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Dihadiri 138 Tokoh Ekonomi dan Keuangan
Menurut narasumber Tutur.co.id, sebanyak 138 undangan dari berbagai sektor akan hadir dalam sarasehan tersebut. Mereka berasal dari asosiasi pengusaha, lembaga riset, perbankan, BUMN, lembaga internasional, rating agency, dana pensiun, manajer investasi, sekuritas hingga mitra strategis.
Dari kalangan pengusaha, tercatat nama Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie dan Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani.
Sejumlah ekonom kritis juga diundang, antara lain: Chatib Basri (Ekonom UI), Agustinus Prasetyantoko (Unika Atma Jaya Jakarta), Didik J. Rachbini (Universitas Paramadina), dan Yose Rizal Damuri (Direktur Eksekutif CSIS)
Dari sektor perbankan, hadir jajaran direksi bank-bank besar nasional dan global, termasuk Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, BCA, CIMB Niaga, OCBC NISP, hingga Standard Chartered, HSBC, JP Morgan, dan MUFG.
Sementara itu, dari lembaga internasional akan hadir perwakilan World Bank, Asian Development Bank (ADB), International Monetary Fund (IMF), serta OECD.
Antisipasi Penilaian Fitch dan S&P
Selain merespons outlook Moody’s, pemerintah juga bersiap menghadapi evaluasi lanjutan dari lembaga pemeringkat lainnya. Fitch Ratings dijadwalkan mengumumkan hasil penilaian terhadap Indonesia pada 23 Februari 2026, disusul oleh Standard & Poor’s (S&P).
Dalam forum tersebut, pemerintah akan memaparkan posisi fiskal, prospek penerimaan negara, strategi pembiayaan, serta arah kebijakan investasi melalui Danantara. Penjelasan itu diharapkan dapat menjaga kepercayaan investor sekaligus memperkuat kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.
Indonesia Economic Outlook menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk menegaskan bahwa fundamental ekonomi tetap terjaga, meskipun dihadapkan pada tekanan global dan dinamika penilaian lembaga pemeringkat internasional.

